Tuesday, 10 September 2013

AYAM ATAU BEBEK?


Mari kita kaji apakah bebek itu bersifat jauh lebih baik dari ayam?

1. Bebek

Bebek dikatakan hewan yang bias antri dan hidup rukun. Bebek bisa menyaring makanannya walaupun dalam lumpur dan bulu-bulu mereka tetap bersih jika sedang mencari makanan ditempat kotor karena mengandung minyak pada bulunya.

“Bebek bias menyaring makanannya” maknanya adalah : kita harus bisa memilah mana baik dan mana buruk.

“Bulu bebek tetap bersih” maknanya agar kita bisa bersih hati dan pikiran, walaupun dalam kondisi yang buruk sekalipun (lumpur)

“Bebek hidup rukun” maknanya agar kita mampu hidup penuh toleransi, rukun dan selalu dalam rel-rel yang telah ditetapkan.

Okay, pernyataan diatas adalah pernyataan secara umum. Sekali lagi, apakah bebek itu bersifat jauh lebih baik dari ayam?

Keburukan bebek adalah terlalu patuh terhadap peternak, digiring kekiri dia kekiri, digiring kekanan ikut kekanan bersamaan, digiring ke jurang pun bebek itu mau–mau saja. Maknanya, arah hidup kita tidak boleh seperti bebek yang terlalu penurut karena siapa yang mengajari kita belum tentu mengarahkan kita pada kebaikan. Keburukan bebek yang kedua adalah bertelur sembarangan. Bebek bukanlah tipikal hewan yang keibu-ibuan. Bebek bertelur dimana saja seakan lupa kalau itu calon anaknya. Bebek adalah binatang yang paling cuek, makanya serring kita dengar ,”cuek bebek”. Maknanya adalah: “kita jangan meniru sifat-sifat bebek dimana bebek membiarkan begitu saja anak-anaknya, seharusnya kita peduli seperti ayam mengerami telurnya dengan penuh kelembutan sekaligus proteksi yang tinggi.

2. Ayam

Ayam dikatakan mempunyai sifat-sifat yang buruk yaitu suka berkelahi dengan temannya. Binatang yang kotor dan menjijikan. Sebenarnya itu kajian filosofi yg masih dangkal karena jika kita bicara filosofi artinya kita harus sudah siap untuk menggali sedalam-dalamnya tanpa mengenal lelah. filosofi juga mesti obyektif dan penuh kebijaksanaan. Lalu apa yang menarik dari ayam? Mari kita menelusurinya.

Ayam, binatang ini sungguh luar biasa. Mereka bisa menjadi alarm setiap paginya bagi para ibu-ibu yang biasa bangun pagi untuk memasak. Ayam adalah hewan yang sangat dinamis. Walaupun terkurung dalam sangkarpun ayam tetap menjalankan kewajibannya untuk berkokok dipagi hari. Dan ayam berani membela haknya.

“Walaupun terkurung dalam sangkar pun ayam tetap menjalankan kewajibannya untuk berkokok dipagi hari “. Makna penggalan kalimat diatas adalah bahwasanya kita harus tetap bisa menjalankan Dharma walaupun berada jauh dari rekan-rekan kita yang lain.

“Ayam berani membela haknya”. Perhatikan kalimat ini, kita maknai sifat-sifat ayam ini sebagai sifat-sifat berjuang dalam Hindu. Dalam Mahabratha begitu gigihnya Dharma melawan Adharma laksana sifat ayam yang berani berjuang demi hak.

Ayam memiliki sifat-sifat keibuan yang begitu tinggi, protektif terhadap serangan musuh namun tetap bisa menyayangi anak-anaknya. Sebelum bertelur, ayam sudah mencarikan tempat yang cocok, nyaman dan hangat untuk calon anak-anaknya.

“Ayam memiliki sifat-sifat keibuan yang begitu tinggi”. Maknanya adalah: mempertahankan Dharma untuk keturunan kita kelak. Jangan hanya berlabel Hindu saja, namun ternyata di hati kita tidak merasa Hindu. Inilah peranan para sulinggih untuk “tidak lupa pada telur” yang sudah ditetaskan sama seperti ayam yang selamanya tak akan menyia-nyiakan keturunannya. Hal ini juga berlaku untuk para orang tua yang sejak dini harus mengajarkan dan menjaga kehinduan untuk para anaknya.

Dan tahukah diantara bebek dan ayam yang mana yang lebih bertanggung jawab? Merekalah Ayam. Bahkan mereka dipercaya untuk mengerami telur-telur bebek pula oleh peternak. Tak percaya? Buktikan saja.

Ayam tak selamanya bernilai buruk dan bebek tidak selalu bernilai baik.....
dikutip dari BHAKTI MANAWA WEDANTA ( Media Diskusi Hindu )

No comments:

Post a Comment