AYAM ATAU BEBEK?
Mari kita kaji apakah bebek itu bersifat jauh lebih baik dari ayam?
1. Bebek
Bebek dikatakan hewan yang bias antri dan hidup rukun. Bebek bisa
menyaring makanannya walaupun dalam lumpur dan bulu-bulu mereka tetap
bersih jika sedang mencari makanan ditempat kotor karena mengandung
minyak pada bulunya.
“Bebek bias menyaring makanannya” maknanya adalah : kita harus bisa memilah mana baik dan mana buruk.
“Bulu bebek tetap bersih” maknanya agar kita bisa bersih hati dan pikiran, walaupun dalam kondisi yang buruk sekalipun (lumpur)
“Bebek hidup rukun” maknanya agar kita mampu hidup penuh toleransi, rukun dan selalu dalam rel-rel yang telah ditetapkan.
Okay, pernyataan diatas adalah pernyataan secara umum. Sekali lagi, apakah bebek itu bersifat jauh lebih baik dari ayam?
Keburukan bebek adalah terlalu patuh terhadap peternak, digiring kekiri
dia kekiri, digiring kekanan ikut kekanan bersamaan, digiring ke jurang
pun bebek itu mau–mau saja. Maknanya, arah hidup kita tidak boleh
seperti bebek yang terlalu penurut karena siapa yang mengajari kita
belum tentu mengarahkan kita pada kebaikan. Keburukan bebek yang kedua
adalah bertelur sembarangan. Bebek bukanlah tipikal hewan yang
keibu-ibuan. Bebek bertelur dimana saja seakan lupa kalau itu calon
anaknya. Bebek adalah binatang yang paling cuek, makanya serring kita
dengar ,”cuek bebek”. Maknanya adalah: “kita jangan meniru sifat-sifat
bebek dimana bebek membiarkan begitu saja anak-anaknya, seharusnya kita
peduli seperti ayam mengerami telurnya dengan penuh kelembutan sekaligus
proteksi yang tinggi.
2. Ayam
Ayam dikatakan
mempunyai sifat-sifat yang buruk yaitu suka berkelahi dengan temannya.
Binatang yang kotor dan menjijikan. Sebenarnya itu kajian filosofi yg
masih dangkal karena jika kita bicara filosofi artinya kita harus sudah
siap untuk menggali sedalam-dalamnya tanpa mengenal lelah. filosofi juga
mesti obyektif dan penuh kebijaksanaan. Lalu apa yang menarik dari
ayam? Mari kita menelusurinya.
Ayam, binatang ini sungguh luar
biasa. Mereka bisa menjadi alarm setiap paginya bagi para ibu-ibu yang
biasa bangun pagi untuk memasak. Ayam adalah hewan yang sangat dinamis.
Walaupun terkurung dalam sangkarpun ayam tetap menjalankan kewajibannya
untuk berkokok dipagi hari. Dan ayam berani membela haknya.
“Walaupun terkurung dalam sangkar pun ayam tetap menjalankan
kewajibannya untuk berkokok dipagi hari “. Makna penggalan kalimat
diatas adalah bahwasanya kita harus tetap bisa menjalankan Dharma
walaupun berada jauh dari rekan-rekan kita yang lain.
“Ayam
berani membela haknya”. Perhatikan kalimat ini, kita maknai sifat-sifat
ayam ini sebagai sifat-sifat berjuang dalam Hindu. Dalam Mahabratha
begitu gigihnya Dharma melawan Adharma laksana sifat ayam yang berani
berjuang demi hak.
Ayam memiliki sifat-sifat keibuan yang
begitu tinggi, protektif terhadap serangan musuh namun tetap bisa
menyayangi anak-anaknya. Sebelum bertelur, ayam sudah mencarikan tempat
yang cocok, nyaman dan hangat untuk calon anak-anaknya.
“Ayam
memiliki sifat-sifat keibuan yang begitu tinggi”. Maknanya adalah:
mempertahankan Dharma untuk keturunan kita kelak. Jangan hanya berlabel
Hindu saja, namun ternyata di hati kita tidak merasa Hindu. Inilah
peranan para sulinggih untuk “tidak lupa pada telur” yang sudah
ditetaskan sama seperti ayam yang selamanya tak akan menyia-nyiakan
keturunannya. Hal ini juga berlaku untuk para orang tua yang sejak dini
harus mengajarkan dan menjaga kehinduan untuk para anaknya.
Dan
tahukah diantara bebek dan ayam yang mana yang lebih bertanggung jawab?
Merekalah Ayam. Bahkan mereka dipercaya untuk mengerami telur-telur
bebek pula oleh peternak. Tak percaya? Buktikan saja.
Ayam tak selamanya bernilai buruk dan bebek tidak selalu bernilai baik.....
dikutip dari BHAKTI MANAWA WEDANTA ( Media Diskusi Hindu )
No comments:
Post a Comment