Kisah Karna berhubungan dengan nilai-nilai
kesetiaan yang terdapat dalam ajaran Panca Satya. Kelima nilai
kesetiaan itu adalah:
- Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata dan tidak berdusta.
- Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tidak mudah terombang-ambing.
- Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat.
- Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman atau sahabat.
- Kelima, satya semaya, artinya setia kepada sumpah ataupun janji.
Pelajaran penting dari kisah Karna adalah bahwa
idealisme Karna perlu ditiru oleh masyarakat. Karna tetap berpegang teguh pada
pendiriannya dan tidak mudah digoyahkan oleh apapun. Para calon pemimpin,
hendaknya mempunyai sifat seperti Karna yang Setia pada janji-janjinya, setia
pada sahabat-sahabatnya, berpendirian teguh, serta jujur dan bertanggung jawab.
Jangan hanya mengobral janji palsu yang tidak menghantarkan hasil bagi
kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
Karna adalah
nama raja Angga yang merupakan tokoh antagonis penting dalam wiracarita
Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan
Pandawa. Padahal sesungguhnya, Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara
lima Pandawa (Yudistira, Bimasena, dan Arjuna). Dalam bagian akhir perang besar
tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, di mana ia akhirnya
gugur di tangan Arjuna.
Karna
merupakan sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat kompleks. Meskipun berada di
pihak antagonis, namun ia terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
kesatria. Sifatnya angkuh, sombong, suka membanggakan diri, namun juga seorang
dermawan yang murah hati kepada siapa saja, terutama fakir miskin dan kaum
brahmana. Kesaktiannya yang luar biasa membuat namanya terkenal sepanjang masa
dan disebut dengan penuh penghormatan.
Kelahiran
Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, bernama Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa dan mendapat anugerah putra darinya.
Pada
keesokannya Kunti mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit.
Akibatnya, dewa penguasa matahari yaitu Surya pun muncul dan siap memberinya
seorang putra. Kunti yang ketakutan menolak karena ia sebenarnya hanya ingin
mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya
bukanlah mainan. Dengan sabda sang dewa, Kunti pun mengandung. Namun Surya juga
membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya lalu kembali ke kahyangan
setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.
Sebuah lukisan dalam kitab Srimad Bhagawatam
dari yayasan ISCKON, menggambarkan adegan saat Kunti memanggil Dewa Surya. Atas
pemanggilan tersebut, Kunti memperoleh putra yang kemudian dibuangnya ke
sungai. putra tersebut adalah Radheya, alias Karna.
Dalam
asuhan Adirata
Demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan sebelum menikah terpaksa membuang “putra Surya” di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus sampai akhirnya ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta di Kerajaan Kuru (atau Kerajaan Hastinapura). Adirata dengan gembira menjadikan bayi tersebut sebagai anaknya. Karena sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian Surya, maka bayi itu pun diberi nama Basusena.
Basusena
pun diasuh dan dibesarkan dalam keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan
julukan Sutaputra (anak kusir). Namun, julukan lainnya yang lebih terkenal
adalah Radheya, yang bermakna “anak Radha” (istri Adirata). Meskipun tumbuh
dalam lingkungan keluarga kusir, Radheya justru berkeinginan menjadi seorang
perwira kerajaan. Adirata pun mendaftarkannya ke dalam perguruan Resi Drona
yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Korawa.
Akan
tetapi, Drona menolak menjadikan Radheya sebagai murid karena ia hanya sudi
mengajar kaum ksatriya saja. Radheya yang sudah bertekad bulat memutuskan tetap
belajar ilmu perang meskipun secara diam-diam. Ia sering mengintai Drona saat
sedang mengajar murid-muridnya, terutama dalam hal ilmu memanah atau Danurweda.
Meskipun berguru secara tidak resmi, kehebatan Radheya dalam memanah melebihi
murid-murid resmi Drona, kecuali Arjuna. Bakat keterampilan inilah yang membuat
Radheya dijuluki sebagai Karna.
Dalam
bahasa Sansekerta istilah Karna bermakna “telinga”. Hal ini mengakibatkan
muncul mitos bahwa Karna lahir melalui telinga Kunti. Namun, Karna juga dapat
bermakna “mahir” atau “terampil”. Kiranya nama Karna ini baru dipakai setelah
Basusena atau Radheya dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna.
Menjadi
raja Angga
Ketika tiba waktunya, Drona mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan para bangsawan dan rakyat Hastinapura, ibu kota Kerajaan Kuru. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Drona akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna (Pandawa nomor tiga) adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna supaya memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu.
Duryodana
(Korawa tertua) maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak
harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan mengharuskan
demikian, Duryodana memiliki jalan keluar. Ia mendesak ayahnya, yaitu
Dretarastra raja Hastinapura, supaya mengangkat Karna sebagai raja bawahan di
Angga. Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan putra
kesayangannya itu. Maka pada hari itu juga, Karna pun resmi dinobatkan menjadi
raja Angga.
Adirata
muncul menyambut penobatan Karna. Akibatnya, semua orang pun tahu kalau Karna
adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bimasena (Pandawa nomor dua) mengejeknya
sebagai anak kusir sehingga tidak pantas bertanding melawan Arjuna yang berasal
dari kaum bangsawan. Sekali lagi Duryodana tampil membela Karna.
Suasana
semakin tegang dan memanas. Namun tidak seorang pun yang menyadari kalau Kunti
jatuh pingsan di bangkunya setelah melihat kehadiran Karna. Kunti langsung mengenalinya
sebagai putra sulung yang pernah ia buang dari pakaian perang dan perhiasan
pemberian Surya yang melekat di tubuh Karna.
Suasana
yang menegangkan itu diredakan oleh terbenamnya matahari. Dretarastra
membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karna melawan Arjuna
pun tertunda. Sejak saat itu dimulailah persahabatan antara Karna dengan
Duryodana, pemimpin para Korawa.
Penolakan
Dropadi
Dropadi
adalah putri Kerajaan Pancala yang kecantikannya membuat banyak raja dan
pangeran datang untuk melamar, termasuk Duryodana. Dalam hal ini, Drupada (raja
Pancala) telah mengumumkan sebuah sayembara memanah bagi siapa saja yang ingin
memperistri putrinya tersebut.
Sayembara
tersebut ialah memanah boneka ikan yang berputar di atas arena, namun tidak boleh
melihatnya secara langsung, melainkan melalui bayangannya yang terpantul di
dalam baskom berisi minyak. Akan tetapi, jangankan membidik boneka tersebut,
mengangkat busur pusaka Kerajaan Pancala saja para peserta tidak ada yang
sanggup, termasuk Duryodana yang perkasa sekalipun.
Karna
kemudian maju setelah sahabatnya itu mengalami kegagalan. Dengan penuh rasa
hormat, ia berhasil mengangkat busur pusaka mahaberat itu dan siap membidik
sasaran sayembara. Tiba-tiba Dropadi menyatakan keberatan apabila Karna sampai
berhasil memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak
seorang kusir. Karna sakit hati mendengarnya. Ia menyebut Dropadi sebagai
wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang
mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya.
Ucapan
Karna membuat Drupada merasa khawatir. Raja Pancala itu pun membuka pendaftaran
baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Dropadi, tanpa harus berasal dari
golongan ksatriya. Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana maju
mendaftarkan diri. Sayembara tersebut akhirnya berhasil dimenangkan olehnya.
Pembalasan
untuk Dropadi
Arjuna kemudian mempersembahkan Dropadi kepada ibunya sebagai oleh-oleh terbaik. Tanpa melihat yang sebenarnya, Kunti langsung memutuskan supaya “oleh-oleh” tersebut dibagi berlima. Akibatnya, kelima Pandawa pun bersama-sama menikahi Dropadi sebagai istri mereka, demi melaksanakan amanat sang ibu.
Beberapa
waktu kemudian, para Pandawa berhasil membangun sebuah kerajaan indah bernama
Indraprastha yang membuat pihak Korawa merasa iri. Melalui permainan dadu yang
sangat licik, mereka berhasil merebut Indraprastha dari tangan Pandawa,
termasuk kemerdekaan kelima bersaudara itu. Pada puncaknya, Yudistira (Pandawa
tertua) dipaksa mempertaruhkan Dropadi demi melanjutkan permainan. Dropadi
akhirnya jatuh pula ke tangan Korawa. Duryodana kemudian menyuruh Dursasana
untuk menyeret Dropadi dari kamarnya. Dropadi pun dijambak dan diseret oleh
Korawa nomor dua itu menuju ruang permainan.
Karna
yang masih menyimpan sakit hati kepada Dropadi mengumumkan bahwa seorang wanita
yang bersuami lima tidak pantas disebut sebagai istri, melainkan pelacur.
Mendengar penghinaan Karna, Arjuna bersumpah kelak akan membunuhnya. Duryodana
pun memerintahkan Dursasana agar menelanjangi Dropadi di depan umum. Namun,
berkat pertolongan rahasia dari Sri Kresna, Dropadi berhasil diselamatkan.
Kutukan
para Brahmana
Karna pernah berguru kepada Parasurama yang juga pernah mengajar Drona. Brahmana gagah berumur panjang tersebut memiliki pengalaman yang buruk dengan kaum ksatriya. Untuk itu, Karna harus menyamar sebagai brahmana muda agar bisa mendekatinya. Dengan cara tersebut Karna berhasil menjadi murid Parasurama.
Pada
suatu hari, Parasurama tidur di atas pangkuan Karna. Tiba-tiba muncul seekor
serangga menggigit paha Karna. Demi menjaga agar Parasurama tidak terbangun,
Karna membiarkan pahanya terluka sedangkan dirinya tidak bergerak sedikit pun.
Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat Karna telah
berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit telah menyadarkan
Parasurama bahwa muridnya itu bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang
ksatriya asli.
Merasa
telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan
antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap
semua ilmu yang telah ia ajarkan.
Kutukan
kedua diperoleh Karna ketika ia mengendarai keretanya dan menabrak mati seekor
sapi milik brahmana yang sedang menyeberang jalan. Sang brahmana pun muncul dan
mengutuk Karna, kelak roda keretanya akan terbenam ke dalam lumpur ketika ia
berperang melawan musuhnya yang paling hebat.
Pusaka
Apabila Karna dilahirkan Kunti melalui anugerah Dewa Surya, maka, Arjuna lahir melalui anugerah Dewa Indra. Menyadari kesaktian Karna, Indra merasa cemas kalau Arjuna kelak sampai kalah jika bertanding melawan putra Surya itu. Maka, Indra pun merencanakan merebut baju pusaka Karna dengan menyamar sebagai seorang pendeta. Konon, jika mengenakan pakaian pusaka tersebut, Karna tidak mempan terhadap senjata jenis apa pun.
Rencana
Indra terdengar oleh Surya. Ia pun memberi tahu Karna. Namun Karna sama sekali
tidak risau. Ia telah bersumpah akan hidup sebagai seorang dermawan sehingga
apa pun yang diminta oleh orang lain pasti akan dikabulkannya.
Indra
yang menyamar sebagai seorang resi tua datang menemui Karna saat sedang
sendirian. Ia meminta sedekah berupa baju perang dan anting-anting yang dipakai
Karna. Karna pun mengiris semua pakaian pusaka yang melekat di kulitnya sejak
bayi tersebut menggunakan pisau. Indra terharu menerimanya. Ia pun membuka
samaran dan memberikan pusaka baru berupa Konta (yang bermakna “tombak”)
sebagai hadiah atas ketulusan Karna. Namun, pusaka Konta hanya bisa digunakan
sekali saja, setelah itu ia akan musnah.
Terbukanya
jati diri
Setelah masa hukuman atas kekalahan dalam permainan dadu berakhir, para Pandawa pun muncul kembali untuk mendapatkan hak mereka atas Kerajaan Indraprastha. Pihak Korawa menolak dan memaksa Pandawa merebutnya dengan jalan perang. Pandawa pun mengirim Kresna sebagai duta menuju Hastinapura. Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karna dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia menjelaskan bahwa Karna dan para Pandawa sebenarnya adalah saudara seibu. Apabila Karna bergabung dengan Pandawa, tentu Yudistira akan merelakan takhta Hastinapura untuknya.
Karna
sangat terkejut mendengar jati dirinya terungkap. Ia menghadapi dilema yang
sangat besar. Dengan penuh pertimbangan ia memutuskan tetap pada pendiriannya
yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan Duryodana yang telah memberinya
kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para Pandawa dahulu. Rayuan
Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karna terhadap Duryodana yang
dianggapnya sebagai saudara sejati.
Setelah
pertemuan dengan Kresna, esok harinya Karna bertemu dengan Kunti. Kunti menemui
putra sulungnya itu saat bersembahyang di tepi sungai. Ia merayu Karna supaya
mau memanggilnya “ibu” dan sudi bergabung dengan para Pandawa. Karna kembali
bersikap tegas. Ia sangat menyesalkan keputusan Kunti yang dulu membuangnya
sehingga kini ia harus berhadapan dengan adik-adiknya sendiri sebagai musuh. Ia
menolak bergabung dengan pihak Pandawa dan tetap menganggap Radha sebagai ibu
sejatinya. Meskipun demikian, Karna tetap menghibur kekecewaan Kunti. Ia
bersumpah dalam perang kelak, ia tidak akan membunuh para Pandawa, kecuali
Arjuna.
Perselisihan
dengan Bisma
Perang besar antara kedua pihak tersebut akhirnya meletus. Pihak Korawa memilih Bisma (bangsawan senior Hastinapura) sebagai panglima mereka. Terjadi pertengkaran di mana Bisma menolak Karna berada di dalam pasukannya, dengan alasan Karna terlalu sombong dan suka meremehkan kekuatan Pandawa. Sebaliknya, Karna pun bersumpah tidak sudi ikut berperang apabila pasukan Korawa masih dipimpin oleh Bisma.
Bisma
akhirnya roboh pada pertempuran hari kesepuluh. Tokoh tua itu terbaring di atas
ratusan panah yang menembus tubuhnya. Karna muncul melupakan semua dendam untuk
menyampaikan rasa prihatin. Bisma mengaku bahwa ia hanya pura-pura mengusir
Karna supaya tidak bertempur melawan Pandawa. Bisma mengetahui jati diri Karna
sebagai kakak para Pandawa setelah diberi tahu oleh Narada (maharesi
kahyangan). Seperti halnya Kresna dan Kunti, Bisma juga menyarankan supaya
Karna bergabung dengan para Pandawa. Namun sekali lagi Karna menolak saran
tersebut.
Pertempuran
melawan Gatotkaca
Kehadiran Karna sejak hari kesebelas segera membangkitkan semangat pihak Korawa. Ia menyarankan agar Duryodana memilih Drona sebagai pengganti Bisma, dengan alasan Drona merupakan guru sebagian besar sekutu Korawa. Dengan terpilihnya Drona maka persaingan antara para pendukung Korawa memperebutkan jabatan panglima dapat dihindari.
Karna
tampil dalam perang besar tersebut sebagai pendamping Drona. Pada hari ke-14
malam, perang tetap terjadi tanpa dihentikan sehingga melanggar aturan yang
telah disepakati. Duryodana menderita luka parah saat menghadapi Gatotkaca
putra Bimasena. Ia pun mendesak Karna supaya menggunakan pusaka Konta untuk
membunuh Gatotkaca. Karena terus didesak, Karna pun melepaskan Konta dan
menewaskan Gatotkaca.
Sesuai
janji Indra, pusaka Konta pun musnah hanya dalam sekali penggunaan. Kresna
selaku penasihat pihak Pandawa merasa senang karena dengan demikian, nyawa
Arjuna bisa terselamatkan. Ia mengetahui kalau selama ini Karna mempersiapkan
pusaka Konta untuk membunuh Arjuna.
Menjadi
panglima pasukan Korawa
Setelah Drona gugur pada hari kelima belas, Duryodana menunjuk Karna sebagai panglima yang baru. Karna maju perang dengan Salya raja Madra sebagai kusir keretanya, dengan harapan bisa mengimbangi Arjuna yang dikusiri Kresna. Salya sendiri sakit hati karena merasa direndahkan oleh Karna. Sambil mengemudikan kereta ia gencar memuji-muji kesaktian Arjuna untuk menakut-nakuti Karna.
Pada
hari keenam belas, Karna berhasil mengalahkan Yudistira, Bimasena, Nakula, dan
Sadewa, namun tidak sampai membunuh mereka sesuai janjinya di hadapan Kunti
dulu. Karna kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha
membunuh satu sama lain. Ketika Karna mengincar leher Arjuna menggunakan panah
Nagasatra, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan
keretanya sehingga panah pusaka tersebut meleset hanya mengenai mahkota Arjuna.
Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.
Pertempuran
terakhir
Karna mendorong roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur pada saat perang Baratayuda. Peristiwa ini terjadi sesaat menjelang kematiannya di tangan Arjuna.
Pada
hari ketujuh belas, perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali.
Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, kutukan atas diri Karna pun
menjadi kenyataan. Ketika Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati, salah
satu roda keretanya terperosok ke dalam lumpur sampai terbenam setengahnya.
Karna tidak peduli, ia pun membaca mantra untuk mengerahkan kesaktiannya
mengimbangi Pasupati. Namun, kutukan kedua juga menjadi kenyataan. Karna
tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang pernah ia pelajari dari Parasurama.
Karna
meminta Arjuna untuk menahan diri sementara ia turun untuk mendorong keretanya
agar kembali berjalan normal. Pada saat itulah Kresna mendesak agar Arjuna
segera membunuh Karna karena ini adalah kesempatan terbaik. Arjuna ragu-ragu
karena saat itu Karna sedang lengah dan berada di bawah. Kresna mengingatkan
Arjuna bahwa Karna sebelumnya juga berlaku curang karena ikut mengeroyok
Abimanyu sampai mati pada hari ketiga belas.
Teringat
pada kematian putranya yang tragis tersebut, Arjuna pun melepaskan panah
Pasupati yang melesat memenggal kepala Karna. Karna pun tewas seketika.
Kehidupan
di surga
Mahabharata bagian akhir, atau Swargarohanikaparwa, mengisahkan perjalanan Yudistira naik ke surga. Di tempat yang serba indah itu ia merasa kecewa karena yang dijumpainya justru arwah para Korawa, bukan adik-adiknya. Ia kemudian diantar para Kingkara untuk menemui keempat Pandawa yang sedang mengalami penyiksaan di neraka. Di tempat mengerikan itu, ia menjumpai arwah keempat adiknya sedang disiksa bersama para pahlawan besar lainya, misalnya Karna, Drestadyumna, Abimanyu, Satyaki, dan lain-lain. Meskipun demikian, Yudistira memilih berada di neraka daripada harus kembali ke surga. Tiba-tiba keadaan pun berbalik. Yudistira dan para pahlawan tersebut kemudian dimasukkan oleh ke dalam surga oleh para dewa sedangkan para penjahat, yaitu Korawa masuk ke dalam neraka. Rupanya peyiksaan tersebut hanya bersifat sementara, selain untuk menguji keteguhan hati Yudistira, juga untuk membersihkan dosa-dosa para pahlawan semasa hidup di dunia dulu.
Dengan
demikian, meskipun sewaktu di dunia Karna hidup bersama para Korawa, namun
ketika berada di akhirat arwahnya berkumpul dengan para Pandawa.
No comments:
Post a Comment