’Kakek
Minta Saya Lari dan Jangan Menoleh ke Belakang’’
RADAR
LAMPUNG -
JUMAT, 2 NOVEMBER 2012
|
Prosesi
penghormatan terakhir sembilan jenazah korban bentrok Lampung Selatan dihadiri
puluhan sanak famili hingga tetangga korban. Suasana begitu haru menyelimuti
keluarga korban. Beberapa kerabat terlihat meratapi dan meneteskan air mata
saat pemberangkatan jenazah. Seperti apa prosesinya?
Laporan
Ari Suryanto, BANDARLAMPUNG
Ritual
kremasi jenazah korban bentrok di Desa Sidoreno, Kecamatan Waypanji, Lamsel,
dilangsungkan di Gedung Krematorium Yayasan Bodhisattva Lampung pukul 08.00 WIB
kemarin (1/11).
Beberapa dari mereka, khususnya keluarga korban bentrok Waypanji, telah
mendatangi tempat tersebut saat matahari belum muncul. Mereka tampak tegar
sambil menunggu ambulans datang membawa jasad anggota keluarga mereka yang
tersimpan di instalasi jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM)
Bandarlampung.
’’Kami sekeluarga sampai di tempat ini pukul 05.15 WIB. Sengaja datang
pagi-pagi sekali dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling untuk mempersiapkan
segala macamnya,” tutur Made Suwarse, salah satu kerabat korban.
Agenda yang sedianya digelar pukul 08.00 itu baru dapat dilangsungkan
satu jam kemudian. Penyebabnya, keterbatasan armada pengangkut jenazah korban.
Dua mobil jenazah yang mengantar korban harus mondar-mandir sebanyak tiga kali
dari RSUDAM ke krematorium.
’’Semua jenazah kini telah berada di tempat. Ritual kremasi sudah bisa
kita mulai sekarang,” ujar Panandita Umat Hindu Desa Balinuraga Jero Gede
Bawati disusul tabuhan musik khas umat Bali. Kian ditabuh, nuansa haru kian
terasa.
Kesembilan jenazah tidak dikremasi secara berbarengan. Melainkan
dilangsungkan dalam lima tahapan. Pasalnya, ruang berbentuk segi delapan yang
dijadikan sebagai tempat pembakaran hanya bisa memuat dua jenazah.
Sebelum jenazah diletakkan, terlebih dahulu peti mayat tersebut berputar
tiga kali. Setelah itu barulah jenazah dikeluarkan dari peti dengan kepala
menghadap ke arah laut untuk segera dilangsungkan proses kremasi.
’’Untuk
kali terakhir, silakan pihak keluarga melihat wajah jenazah. Dengan syarat
jangan sampai meneteskan air mata di tubuh jenazah,” ujar sang Panandita
sebagai sosok yang dituakan tersebut.
Begitu jenazah siap dikremasi, keluarga di Krematorium Yayasan
Bodhisattva Lampung dipersilakan duduk tidak terlalu dekat dengan tungku
pembakaran untuk menghindari panasnya api. Satu proses kremasi jenazah memakan
waktu sampai dua jam.
Selama
menunggu proses kremasi itulah, seorang anak berusia delapan tahun, yakni
Mengkuja Astawan, warga Desa Balinuraga, tiba-tiba bangkit dari tempat duduk
serta langsung memegangi ujung salah satu peti dan menangis. Tak ada jeritan,
tak ada isakan.
Namun,
air mata sang bocah deras mengalir. Tampak sekali dia tengah menahan beban duka
teramat berat. Sehingga tak mampu lagi berteriak, bahkan terisak.
Melihat
ini, perempuan berusia sekitar 45 tahun yang semula duduk di samping sang bocah
sontak menyusul. ’’Ini peti kakeknya. Sedangkan yang di samping peti pamannya
Astawan,” kata nya kepada Radar Lampung yang berada tepat di samping sang
bocah.
Bocah
kelas dua SD itu pun tiba-tiba melontarkan kalimat lirih. ’’Waktu orang-orang
pada ramai, saya sedang bersama kakek. Kakek terus meminta saya berlari
sekencang-kencangnya menuju hutan. Kakek sendiri cuma jalan pelan karena sudah
tua,” ujar dia.
Astawan
melanjutkan, selama berlari, ia masih ingat pesan sang kakek untuk jangan
sekalipun menolehkan wajah ke belakang. ’’Terus berlari ke depan. Saya nggak
boleh nengok. Kakek janji menyusul, tetapi ternyata nggak nyusul-nyusul,’’
tuturnya. (p2/c1/ary)
Dikutip dari kisah nyata
No comments:
Post a Comment