Kaisar Napoleon Bonaparte (lahir di pulau Korsika,
15 Agustus
1769 – meninggal
5 Mei
1821 pada umur 51 tahun). Ia
berasal dari sebuah keluarga bangsawan lokal dengan nama Napoleone di
Buonaparte (dalam bahasa Korsika, Nabolione atau Nabulione). Di kemudian hari
ia mengadaptasi nama Napoléon Bonaparte yang lebih berbau Perancis.
Ia menjadi siswa di Akademi Militer
Brienne tahun 1779 pada usia 10 tahun,
kecerdasannya membuat Napoleon lulus akademi di usia 15 tahun. Karier
militernya menanjak pesat setelah dia berhasil menumpas kerusuhan yang dimotori
kaum pendukung royalis dengan cara yang sangat mengejutkan: menembakkan meriam
di kota Paris
dari atas menara. Peristiwa itu terjadi tahun 1795 saat Napoleon berusia
26 tahun. Berbagai perang
yang dimenangkannya diantaranya melawan Austria
dan Prusia.Pada
masa kejayaannya, Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh dataran Eropa baik dengan
diplomasi maupun peperangan.
Napoleon
seperti manusia pada umumnya memiliki cinta pertama. Adalah Bernadiné Eugiené
Désirée Clary, seorang gadis yang ia cintai pertama kali dan juga merupakan
adik ipar dari kakak lelaki Napoleon. Désirée bertunangan dengan Napoleon saat
Napoleon masih menjadi jendral miskin. Mereka saling mencintai satu sama lain,
bahkan ketika Napoleon tertangkap dan tidak punya uang, Désirée lah yang
berusaha membantunya dan meminjamkannya uang. Sebenarnya mereka ingin segera
mungkin menikah, namun karena Désirée adalah anak bungsu, ia diminta menunggu
hingga berusia 16 tahun dan barulah ia diperbolehkan menikah. Akan tetapi
sebelum ia berusia 16 tahun, lelaki kekasihnya itu harus pergi ke Paris guna
meminta haknya sebagai seorang jenderal, dan mereka pun berpisah sementara
waktu. Perjuangan Napoleon di Paris tampaknya tak berhasil, ia malah semakin
terpuruk terutama kondisi keuangannya. Dan itu berdampak bagi hubungannya
dengan Désirée yang semakin menjauh.
Désirée yang masih sangat berharap
Napoleon segera menikahinya akhirnya menyusul Napoleon ke Paris akan tetapi
yang ia temukan malah kekasihnya itu telah bertunangan dengan seorang janda
kaya dan akan segera menikah. Désirée yang patah hati berusaha melupakan
tunangannya itu. Sementara itu Napoleon dengan kekuatannya perlahan-lahan
menaklukan negara-negara Eropa dan menjadi jenderal besar. Kehidupan Désirée
pun mengalami banyak perubahan, ia bertemu dengan Jenderal Jean-Baptiste
Bernadotte dan akhirnya menikah.
Dalam banyak kisah diceritakan bahwa
walaupun kehidupannya terpisah dengan pasangan dan dunia masing-masing,
keduanya tidak pernah bisa benar-benar melupakan satu sama lain. Napoleon yang
telah menjadi kaisar Perancis akhirnya terpisahkan dengan cinta pertamanya,
karena setelah menikah, Désirée dan suaminya diadopsi lalu diangkat menjadi
Putera Mahkota Swedia. Kemudian terjadilah hal yang ditakutkan Napoleon kalah
perang akibat persekutuan musuh-musuh Perancis seperti Rusia, Austria, dan
Swedia yang dipimpin oleh mantan bawahan Napoleon dan suami Désirée, dan
Perancis harus jatuh ke tangan musuh.
Kisah percintaan pertama Kaisar
Perancis ini rupanya menarik perhatian banyak pihak, terutama setelah terbitnya
buku berjudul Désirée karya Annemarie Selinko yang kemudian diangkat ke layar
lebar dengan judul yang sama pada tahun 1955. Dalam kisah tersebut dinyatakan
bahwa keduanya masih saling memikirkan satu sama lain
Désirée yang kemudian menjadi Ratu Swedia dan Norwegia
memang sangat mencintai suaminya akan tetapi ia tidak pernah bisa melupakan
cinta pertamanya. Begitu juga Napoleon, dibalik petualangan cintanya dengan
beberapa wanita dan peperangannya, ia tidak pernah melupakan Désirée, cinta
pertamanya. Salah satu dialog Désirée dalam buku tersebut berbunyi; Aku adalah
bagian dari masa muda Napoleon, itulah penjelasannya. Dan tidak seorang
lelakipun melupakan masa mudanya.
Dalam
organisasi militer, Napoleon mengenalkan istilah korps, yang terdiri atas
kumpulan divisi. Pembentukan korps ini juga didukung oleh besarnya pendaftaran
tentara yang mengakibatkan jumlah tentara menjadi membengkak, sehingga
diperlukan suatu kesatuan tentara yang lebih besar dari divisi.
Napoleon juga dikenal dengan
penggunaan artileri secara besar-besaran untuk menghancurkan tentara musuh,
ketimbang menggunakan tentara infantri secara langsung. Dalam pemilihan
artileri, Napoleon memilih artileri yang memiliki mobilitas tinggi agar bisa
mendukung taktik manuver yang sering digunakannya dalam pertempuran. Salah satu
artileri yang sering digunakan adalah meriam Sistem Tahun XI yang
sebenarnya lebih merupakan inovasi dari meriam Sistem Gribeauval.
Politik Napoleon senantiasa
menumbuhkan keyakinan bahwa dialah seorang yang membela Revolusi Perancis.
Tetapi, di tahun 1804 dia sendiri pula yang memperoklamirkan diri selaku Kaisar
Perancis. Tambahan lagi, dia mengangkat tiga saudaranya keatas tahta kerajaan
di beberapa negara Eropa. Langkah ini tidak bisa tidak menumbuhkan rasa tidak
senang pada sebagian orang-orang Republik Perancis yang menganggap tingkah itu
sepenuhnya merupakan pengkhianatan terhadap ide-ide dan tujuan Revolusi
Perancis. Tetapi, kesulitan utama yang dihadapi Napoleon adalah peperangan
dengan negara-negara asing.
Di tahun 1802, di Amiens,
Napoleon menandatangani perjanjian damai dengan Inggris. Ini memberi angin lega
kepada Perancis yang dalam tempo sepuluh tahun terus-menerus berada dalam
suasana perang. Tetapi, di tahun berikutnya perjanjian damai itu putus dan
peperangan lama dengan Inggris dan sekutunya pun mulai lagi. Walaupun pasukan
Napoleon berulang kali memenangkan pertempuran di daratan, Inggris tidak bisa
dikalahkan kalau saja armada lautnya tak terlumpuhkan. Malangnya untuk
Napoleon, dalam pertempuran yang musykil di Trafalgar tahun 1805, armada laut
Inggris merebut kemenangan besar. Karena itu, pengawasan dan keampuhan Inggris
di lautan tidaklah perlu diragukan lagi. Meskipun kemenangan besar Napoleon (di
Austerlitz melawan Austria dan Rusia) terjadi enam minggu sesudah Trafalgar,
hal ini sama sekali tidak bisa menghapus kepahitan kekalahan di sektor armada
laut.
Namun tidak semua peperangan berhasil dimenangkannya. Kegagalan dalam menginvasi daratan Mesir yang akibatnya berhadapan dengan kekuatan Inggris, Mamluk dan Utsmani. Meski di daratan gurun, Napoleon sukses mengalahkan tentara gabungan Utsmani dan Mamluk dalam Pertempuran Piramida, tetapi beberapa hari kemudian armada Perancis dikalahkan oleh armada Inggris di bawah pimpinan Laksamana Horatio Nelson di Teluk Aboukir. Armada Horatio Nelson untuk kedua kalinya berhasil mengalahkan armada Perancis. Kali ini pada pertempuran laut di Trafalgar antara armada Perancis-Spanyol yang dipimpin oleh Admiral Villeneuve dengan armada Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Nelson meskipun Nelson gugur dalam pertempuran ini
Namun tidak semua peperangan berhasil dimenangkannya. Kegagalan dalam menginvasi daratan Mesir yang akibatnya berhadapan dengan kekuatan Inggris, Mamluk dan Utsmani. Meski di daratan gurun, Napoleon sukses mengalahkan tentara gabungan Utsmani dan Mamluk dalam Pertempuran Piramida, tetapi beberapa hari kemudian armada Perancis dikalahkan oleh armada Inggris di bawah pimpinan Laksamana Horatio Nelson di Teluk Aboukir. Armada Horatio Nelson untuk kedua kalinya berhasil mengalahkan armada Perancis. Kali ini pada pertempuran laut di Trafalgar antara armada Perancis-Spanyol yang dipimpin oleh Admiral Villeneuve dengan armada Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Nelson meskipun Nelson gugur dalam pertempuran ini
Kegagalan dalam menginvasi Rusia karena ketangguhan
dan kecerdikan strategi Jendral Mikhail dan Tsar Alexander dalam menghadapi pasukan
Perancis dengan memanfaatkan musim dingin Rusia yang dikenal mematikan serta
pengkhianatan Raja Swedia.
Strategi Rusia dalam hal ini adalah membakar kota Moskwa ketika
Napoleon berhasil menaklukkan kota itu setelah melewati pertempuran melelahkan
di Borodino dan mengharapkan sumber logistik
baru. Kekalahan di Rusia diulangi lagi oleh Adolf Hitler
dari Jerman
pada Perang Dunia II.
Kekalahan yang mengakhiri
kariernya sebagai Kaisar Perancis setelah
melarikan diri dari Pulau Elba dan memerintah kembali di Perancis selama 100 hari adalah
kekalahan di Waterloo ketika berhadapan dengan kekuatan
Inggris yang dipimpin Duke of Wellington,
Belanda oleh Pangeran van Oranje dan
Prusia yang dipimpin oleh General Blücher serta persenjataan
baru hasil temuan Jendral Shrapnel dari Inggris, yang mengakibatkan dia dibuang ke Pulau
Saint Helena
sampai wafatnya.
http://media.isnet.org/iptek/100/Bonaparte.html
http://google//wiklipedia//Napoleon
Bonaparte
No comments:
Post a Comment