Kebangkitan Agama Hindu di Jawa
By Pencerah Iman Januari 6, 2013 agama hindu jawa
Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia
Oleh Thomas Reuter
Selama
1000 tahun, kerajaan2 Hindu subur di Jawa, sampai datangnya Islam di
abad ke 15. Tetapi, di tahun 1970-an, bangkit kembali sebuah gerakan
Hindu yg menyebar ke seluruh kepulauan Indonesia. Agama Hindu bahkan
mendapat lebih banyak pengikut di saat negara sedang menghadapi berbagai
krisis, terutama di Jawa, pusat politik di Indonesia.
Berdasarkan
riset etnografis atas lima kelompok masyarakat pada candi2 Hindu besar,
tulisan ini menelaah sejarah politik dan dinamika sosial bangkitnya
kembali agama Hindu di Jawa.
Saya tertarik pada Jawa setelah
melakukan penelitian selama 10 tahun di Bali. Kebanyakan masyarakat Bali
menganggap diri mereka sebagai keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu
Jawa Majapahit yang menaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali
yang berziarah ke kuil2 Hindu di Jawa semakin bertambah. Malah mereka
sering terlibat dalam pembangunan kuil2 dan pelaksanaan ibadah Hindu
baru di Jawa. Mereka juga mendominasi perwakilan kaum Hindu di taraf
nasional. Dan banyak pendeta2 Hindu Jawa yang dilatih di Bali.
Hal yang paling mempengaruhi gerakan ini :
…
1) Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sejarah dan Politik
a)
Banyak
orang Jawa masih mempertahankan kepercayaan warisan tradisi Hindu
selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam. Kepercayaan ini dikenal
sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islam abangan, nama yg
dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencil masih tetap
memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah masyarakat
Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di
Jawa Timur. Orang2 ‘Hindu’ Jawa yang ditulis di laporan ini adalah
mereka yang tadinya Muslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama
Hindu.
Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor
Statistik Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa
yang secara resmi murtad atau ‘kembali lagi’ pindah dari Islam ke Hindu
dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saat yang bersamaan, cabang
organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwa umatnya bertambah
sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidak sepenuhnya
dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan besarnya kebangkitan
agama Hindu di Jawa karena ini hanya berdasarkan nama agama yang
tercantum di KTP dan hanya berdasarkan laporan agama resmi. Menurut
pengamatan saya, banyak yang pindah agama tapi tidak melaporkan diri.
Meskipun
demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata lebih banyak
daripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan secara independen
selama penelitian saya di Jawa Timur menunjukkan bahwa tingkat cepatnya
proses pindah agama melesat secara dramatis selama dan setelah jatuhnya
Pemerintahan Rezim Suharto di tahun 1998.
Sebelum tahun 1962, agama
Hindu tidak diakui secara nasional sehingga orang2 beragama Hindu tidak
bisa mencantumkan agama mereka secara resmi. [2] Permohonan pengakuan
Hindu sebagai agama resmi diajukan oleh organisasi agama dari Bali dan
dikabulkan di tahun 1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas
adalah Hindu. Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali
yang kemudian diubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964,
berupaya untuk memperkenalkan Hindu secara nasional dan bukan hanya
milik Bali saja (Ramstedt 1998).
Di awal tahun 70-an, orang2 Toraja
Sulawesi mengambil kesempatan ini dengan memeluk agama nenek moyang
mereka yang banyak dipengaruhi oleh Hindu. Masyarakat Batak Karo dari
Sumatra di tahun 1977 dan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan di tahun
1980 juga melakukan hal yang sama (Bakker 1995).
b)
Identitas
agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu memperoleh status
resminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti komunis di tahun
1965-66 (Beatty 1999). Orang2 yang tidak dapat menyebutkan agamanya
digolongkan sebagai orang atheis dan dituduh komunis. Terlepas alasan
politis ini, kebanyakan orang menganut Hindu karena juga ingin
mempertahankan agama nenek moyang dan bagi masyarakat di luar Jawa,
Hindu merupakan pilihan terbaik dibandingkan Islam. Sebaliknya,
kebanyakan orang Jawa tidaklah melihat Hindu sebagai agama pilihan di
saat itu karena kurang adanya organisasi Hindu dan juga karena takut
pembalasan organisasi2 Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota2
muda NU tidak hanya aktif membunuhi orang2 komunis tapi juga unsur2
Jawa Kejawen atau anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam
milik Sukarno selama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner
1987). Demi keslamatan nyawa, para pengikut Kejawen terpaksa
mengumumkan diri mereka sebagai Muslim.
Pada awal Orde Baru, Presiden
Suharto tidak mengikuti paham agama apapun. Baru di tahun 1990-an,
Suharto mulai mendekati organisasi2 Islam. Awalnya Suharto adalah
pembela aliran Kejawen yang gigih, tapi ia lalu mengajukan tawaran2
kepada kelompok Islam di masa itu karena berkurangnya dukungan
masyarakat dan militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas
tampak pada dukungannya atas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),
yang anggotanya secara terbuka menginginkan negara dan masyarakat Islam
Indonesia (Hefner 1997).
Kekuatiran mulai tumbuh tatkala ICMI
menjadi organisasi yang mendominasi birokrasi nasional dan melaksanakan
program2 pendidikan Islam besar2an dan pembangunan mesjid2 melalui
Departemen Agama dan sekali lagi menyerang aliran dan penganut Kejawen.
Pada waktu yang sama, terjadi pembunuhan2 oleh ekstrimis Muslim atas
orang2 yang dituduh sebagai dukun yang melakukan pengobatan tradisional
Kejawen. (Ingat serentetan kasus pembunuhan dukun santet oleh ‘ninja’
yang terjadi di desa2 terpencil di Jawa?)
Pengalaman2 pahit dan
penindasan2 membuat para penganut Kejawen takut dan juga benci. Dalam
wawancara yang dilakukan di tahun 1999, orang2 yang baru saja murtad dan
memeluk Hindu di Jawa Tengah dan Timur mengaku bahwa mereka sebenarnya
tidak keberatan dengan identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saat
harus meninggalkan tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan
upacara2 tertentu yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk
menyalurkan hasrat politik, banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru
agama Hindu yang menjadi anggota partai politik Megawati Sukarnoputri.
Sumber2 keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwa kembalinya mereka
kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasional dan ini
diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya diri..
2)Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sosial dan Ekonomi
Ciri2
umum yang tampak di masyarakat baru Hindu di Jawa adalah kecenderungan
untuk berkumpul di pura2 yang baru saja dibangun atau candi2 kuno yang
dinyatakan kembali sebagai tempat ibadah masyarakat Hindu. Satu dari
pura2 Hindu yang baru dibangun di Jawa Timur adalah
Contoh, Candi
Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung Semeru. Ketika candi ini
selesai dibangun pd bulan Juli 1992 dengan bantuan keuangan Bali, hanya
segelintir keluarga setempat secara resmi memeluk agama Hindu.
Penelitian di bulan Desember 1999 menunjukkan masyarakat Hindu lokal
berkembang menjadi lebih dari 5.000 keluarga.
Perpindahan agama
besar2an yang sama juga terjadi di daerah sekitar Candi Agung Blambangan
yang merupakan candi baru yang dibangun di daerah sisa2 kerajaan
Blambangan, pusat kekuatan politis Hindu terakhir di Jawa. Yang tidak
kalah pentingnya adalah Candi Loka Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat
Kediri), di mana raja dan petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai
moksa (kemerdekaan spiritual).
Gerakan Hindu lain yang juga mulai
tampak terjadi di daerah sekitar Candi Pucak Raung (di Jawa TImur) yang
baru saja dibangun. Daerah ini disebut dalam sastra Bali sebagai tempat
di mana begawan Hindu, Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya
untuk melakukan perjalanan ke Bali dan dengan itu membawa agama Hindu ke
Bali di abad 5 M.
Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah
Candi Hindukuno di Trowulan dekat Mojokerto. Daerah ini dikenal sebagai
ibukota kerajaan Hindu Majapahit. Gerakan Hindu setempat berusaha untuk
mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru saja digali sebagai tempat
ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi Gajah Mada,
perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan Hindu
kecil itu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke.
Meskipun
terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengah
daripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga berkembang di
Jawa Tengah (Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di dekat Candi
Prambanan.
Candi Prambanan
Selain itu candi2 besar Hindu juga
dapat mendatangkan kemakmuran baru bagi masyarakat setempat. Selain
mengundang biaya bagi pekerja2, pelebaran dan perbaikan candi itu
sendiri, mengalirnya peziarah Bali yang terus menerus ke candi2 nasional
itu menciptakan suatu industri baru bagi penduduk setempat. Di
sepanjang jalan utama menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan
toko2 yang menawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi
para pendatang. Pada hari2 raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang
setiap hari. Peziarah yang memberi sumbangan dana besar bagi candi
besar itu juga ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Kemakmuran
ekonomi orang2 Bali juga membuat penduduk setempat berpendapat bahwa
‘budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkan keberhasilan pariwisata
internasional dibandingkan budaya Islam’.
3) Kebangkitan Hindu sebagai Pemenuhan Ramalan Utopia (negara impian)
Pihak
pendukung dan penentang agama Hindu biasanya menghubungkan bangkitnya
agama Hindu secara tiba2 di Jawa dengan ramalan terkenal Sabdapalon dan
Jayabaya. Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa utopia dan bencana alam
dahsyat, meskipun pengertian akan ramalan ini berbeda antara kedua
pihak.
Harapan terpenuhinya ramalan itu merupakan cermin
ketidakpuasan yang semakin membesar atas Pemerintahan Suharto yang korup
dan tangan besi di tahun 1990-an sampai berakhir di tahun 1998, yang
diikuti dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawa sejalan
dengan krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar
yang terus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin menumbuhkan
harapan itu.
Presiden Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama
yang terpilih secara demokratis, ternyata mengundang banyak kritik
karena pada masanya terjadi pertentangan agama, pemberontakan di Aceh
dan Papua Barat dan skandal korupsi di Pemerintahan. [3] Masyarakat luas
menduga ketidakstabilan politik di bawah Pemerintahan Megawati
Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terus berlangsung. Selain
itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman Suharto akan
terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan baru agama
Hindu, keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai dengan ramalan
Sabdapalon dan Jayabaya.
Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta
dan penasehat Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Hindu Majapahit.
Dikisahkan pula bahwa Sabdapalon mengutuk rajanya yang meninggalkan
agama Hindu untuk memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalon lalu
berjanji untuk kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa
merajalelanya korupsi politik dan bencana2 alam besar, untuk
mengenyahkan Islam dari pulau Jawa dan membangkitkan kembali agama dan
masyarakat Hindu Jawa.
Beberapa candi Hindu baru yang pertama
dibangun di Jawa memang selesai dibangun sekitar tahun 1978, misalnya
Candi Blambangan di daerah Banyuwangi. Sesuai dengan ramalan, Gunung
Semeru meledak di waktu itu pula. Semua ini dianggap sebagai bukti
tepatnya ramalan Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dari agama Islam
menerima prinsip ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda.
Beberapa kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu
disebabkan karena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri,
dengan menyalahkan sifat materialisme di dunia modern dan turunnya
nilai2 Islami atau karena penerapan Islam yang tak murni melalui
tatacara ibadat Kejawen (Soewarno 1981). Menurut pendapat mereka,
‘kembalinya Sabdapalon’ berarti ujian bagi Islam dan perlunya memurnikan
dan membangkitkan kembali iman Islam.
Ramalan yang lain yang juga
terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia adalah ramalan Jayabaya. Buku
tentang ramalan ini yang ditulis oleh Soesetro & Arief (1999) telah
jadi best seller nasional. Ramalan Jayabaya juga seringkali didiskusikan
di koran2. Ramalan2 kuno ini memang bagian dari percakapan dan diskusi
sehari-hari dalam masyarakat Indonesia.
Tokoh legendaris Sri Mapanji
Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135
sampai 1157 M (Buchari 1968:19). Dia terkenal atas usahanya menyatukan
kembali Jawa setelah pecah karena kematian raja sebelumnya, Airlangga.
Jayabaya juga terkenal karena keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan
karena pengabdiannya bagi kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal
sebagai titisan dewa Wishnu dan dianggap sebagai ‘ratu adil’ yakni raja
yang bijaksana yang muncul di jaman edan di akhir putaran tatasurya
untuk menegakkan kembali keadilan sosial, keteraturan dan keseimbangan
di dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sang ratu adil yang baru
telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, “jika kendaraan2
besi bergerak sendiri tanpa kuda2 dan kapal2 berlayar menembus
langit“), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukan
Indonesia kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan kepada awal
jaman keemasan yang baru.
Dugaan terjadinya bencana besar dan utopia
ini mengingatkan akan berakhirnya putaran tatasurya di masa kejayaan
yang lampau untuk masuk ke jaman sekarang yang penuh kebobrokan moral,
dan perlu diperbaiki kembali di masa depan dengan mengulangi kembali
kejayaan di masa lampau.
Orang2 Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan
Jayabaya dgn penuh kebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum
Islam. Kalangan Islam sendiri sebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu
sebetulnya adalah seorang Muslim dan Sabdapalon tidak mau masuk Islam
karena saat itu dia berhadapan dengan bentuk Islam yang salah dan tidak
murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, para penelaah ramalan dari
pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masa terjadinya bencana
hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar2an dan mungkin pula
sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa sistem pemerintahan
demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana dengan adanya pemimpin yang
bermoral sangat tinggi yang mencampurkan kesadaran demokrasi modern
dengan karisma kepemimpinan tradisional.
Pengaruh ramalan Jayabaya
tampak nyata pada diri masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan
ini tampak pula dengan kunjungan2 rahasia yang dilakukan Presiden
Abdurahman Wahid (sekali sebelum dia dicalonkan untuk jadi presiden dan
sekali lagi sebelum dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candi
keramat Raja Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [4] Setelah
kunjungan pribadi malam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut
pengakuan pendeta2 Hindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka untuk
waktu lama tentang ramalan2 Jayabaya dan kedatangan kembali ratu adil.
Bukit Penulisan
————————————————————————
Footnotes
[1]
Islam, for example, incorporated elements from the tribal traditions of
Arab peoples and from Jewish and Christian texts such as the ‘Old
Testament’.
[2] The other four state-recognized religions (agama) are
Islam, Catholicism, Protestantism, and Buddhism (mainly Indonesians of
Chinese ethnicity). Unrecognized religions are categorized by the state
as minor
‘streams of belief’ (aliran kepercayaan) or are simply treated as a part of different local ‘customs and traditions’ (adat).
[3]
As I am writing this, parliamentary procedures have been set into
motion so as to impeach President Abdurahman Wahid on allegations of his
involvement in corruption scandals.
[4] Pura Pucak Penulisan is
still an important regional temple, and was a state temple of Balinese
kings from the eighth century AD (Reuter 1998). Many statues of Balinese
kings are still found in its inner sanctum, including one depicting
Airlangga’s younger brother Anak Wungsu. Literary sources suggest that
intimate ties of kinship connected the royal families of Bali with the
dynasties of Eastern Javanese kingdoms, including Kediri. Jayabaya’s
predecessor Airlannga, for example, was a Balinese prince.
[5]
Sometimes apocalyptic expectations can reach such a pitch that members
of the movement concerned may feel a need to bring about the very
cataclysm the have been predicting. The poison gas attack in Tokyo
launched by Japan’s AUM Shinokio sect is a recent example. It is still
uncertain whether the recent bomb attacks on Javanese Christian churches
over the christmas period of 2000 were the responsibility of radical
religious groups, or were instigated by other political interest groups
wishing to destabilize the country by inciting simmering inter-religious
conflicts in Java to the same level of violence as in the troubled
Molukka Province.
References
Adorno, T. W. 1978. ‘Freudian Theory
and the Pattern of Fascist Propaganda’. In A. Arato & E. Gebhardt
(eds), The Essential Frankfurt School Reader. Oxford: Basil Blackwell.
Bakker,
F. 1995. Bali in the Indonesian State in the 1990s: The religious
aspect. Paper presented at the Third International Bali Studies
Workshop, 3-7 July 1995.
Beatty, A. 1999. Varieties of Javanese Religion. Cambridge: Cambridge University Press.
Buchari 1968. ‘Sri Maharaja Mapanji Garasakan’. Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, 1968(4):1-26.
Ellingsen,
P. 1999. ‘Silence on Campus: How academics are being gagged as
universities toe the corporate line’. Melbourne: The Age Magazine,
11.12.1999:26-32.
Fox, J. & Sathers, C. (eds) 1996. Origins,
Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography.
Canberra: Department of Anthropology, Research School of Pacific and
Asian Studies, Australian National University.
Geertz, C. 1960. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press.
Hefner, R. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton: Princeton University Press.
Hefner,
R. 1987. ‘The Political Economy of Islamic Conversion in Modern East
Java’. In W. Roff (ed.), Islam and the Political Economy of Meaning.
London: Croom Helm.
Hefner, R. 1990. The Political Economy of Mountain Java. Berkeley: University of California Press.
Hefner,
R. 1997. ‘Islamization and Democratization in Indonesia’. In R. Hefner
& P. Horvatich (eds), Islam in an Era of Nation States: Politics and
Religious Renewal in Muslim Southeast Asia. Honolulu: University of
Hawaii Press.
Kaplan, M. 1995. Neither Cargo nor Cult: Ritual
Politics and the Colonial Imagination in Fiji. Durham (NC): Duke
University Press.
Lee, K. 1999. A Fragile Nation: The Indonesian Crisis. River Edge (N.J.): World Scientific.
Lindstrom, L. 1993. Cargo Cult: Strange Stories of Desire from Melanesia and Beyond. Honolulu: University of Hawaii Press.
Lyon,
M. 1980. ‘The Hindu Revival in Java”. In J. Fox (ed.), Indonesia: The
making of a Culture. Canberra: Research School of Pacific and Asian
Studies, Australian National University.
Ramstedt, M. 1998. ‘Negotiating Identity: ‘Hinduism’ in Modern Indonesia’. Leiden: IIAS Newsletter, 17:50.
Reuter,
T. 1998. ‘The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain in the
Highlands of Bali’. Review of Indonesian and Malaysian Affairs, 32
(1):55-109.
Schwartz, H. 1987. ‘Millenarianism: An overview’. In M.
Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 9:521-532. New York:
MacMillan.
Smelser, J. 1962. Theory of Collective Behavior. London: Routledge and Kegan Paul.
Soesetro, D. & Arief, Z. 1999. Ramalan Jayabaya di Era Reformasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Soewarna, M. 1981. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. Jakarta: P.T Yudha Gama.
Stewart, K. & Harding, S. 1999. ‘Bad Endings: American Apocalypsis’. Annual Review of Anthropology 28:285-310.
Stewart,
P.J. 2000. ‘Introduction: Latencies and realizations in millennial
practices’. Ethnohistory 47(1):3-27. [Special Issue on Millenarian
Movements.]
Timmer, J. 2000. ‘The return of the kingdom: Agama and
the millennium among the Imyan of Irian Jaya, Indonesia’. . Ethnohistory
47(1):29-65.
Note: Dr Thomas Reuter is Queen Elizabeth II Research
Fellow at the University of Melbourne’s School of Anthropology,
Geography & Environmental Studies. This paper was published in The
Australian Journal of Anthropology and is being reproduced with their
permission.
Artikel Ini Bersumber Pada Website Yang Mendukung Kebangkitan Hindu di Jawa dan Seluruh Indonesia.
Tapi karena Muslim merasa ketakutan akan website ini, maka website ini diblokir oleh Tifatul Sembiring dari PKS.
Forum
Faithfreedom (http://indonesia.faithfreedom.org/forum) Adalah
Satu-Satunya Website Non Pornografi yang diblokir pemerintah muslim
Indonesia.
Buat Anda yang ingin berjuang menegakkan kembali Hindhu Jawa, silakan memakai software anti blokir seperti:
1. Opera Tor atau Firefox Tor (silakan googling)
2. Memakai Proxy
3. Silakan baca artikel ini: http://bacaanmualaf.wordpress.com/2013/03/30/kenapa-ffi-blm-bisa-dibuka-di-bbhellppp-3/
Faithfreedom Indonesia


No comments:
Post a Comment