Friday, 20 May 2016

Cerita dibalik Pintu Baja



23-07-2014 03.26

Wanita paruh baya itu terduduk di depan sebuah pintu baja yang memisahkan antara dunia luar dan kumpulan sel pengap tempat para pelaku kejahatan dan korban ketidak adilan menerima hukuman yang dianggap setimpal, air matanya terus mengalir jatuh ke tanah, wajah pucat terus menghiasi wajah tuanya yang sudah lama tidak tersenyum. Sudah sejak pagi ia menunggu di depan pintu baja itu, berharap penjaga penjaga berwajah bengis itu memiliki sedikit belas kasihan untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan suaminya untuk terakhir kalinya, hari itu suaminya akan di eksekusi, dan tiang gantungan akan mengakhiri perjuangan seseorang yang sudah lebih dari 30 tahun ia damping berjuang, atas sebuah idealisme yang sangat ia percayai.
Dibalik pintu baja itu, terdapat sebuah sel kecil dan didalamnya terdapat seseorang paruh baya berumur sekitar 50an  dengan wajah dengan jagut dan kumis yang lebat. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka, tatapan matanya kosong, seolah keputus asaan sudah datang kepadanya. Tak terlihat semangat seperti ketika ia berorasi dan membakar semangat para pengikutnya yang melawan para penguasa yang selalu mengatasnamakan rakyat. Beberapa jam lagi,ia akan menghadapi kematian, kamatian yang sudah datang kepada para sahabatnya terlebih dahulu. Ia berjuang melawan para penguasa yang mendapatkan kekuasaan dengan segala cara. Dan hari ini ia merasa kalah. Bukan kematian yang membuatnya risau tapi akhir perjuangannya yang membuatnya merasa sedih. Terlalu banyak hal yang telah ia korbankan untuk sebuah gelar yang kini telah ia dapat, yaitu penghianat.
Ketika pahlawan sebenarnya dianggap sebagai seorang penghianat, itulah mereka. Perjuangan mereka untuk merubah nasib manusia-manusia yang hidupnya tanpa arti di atur oleh sekelompok politisi yang hanya peduli akan kelangsungan hidupnya. Ia ingat beberapa hari lalu ketika sahabat- sahabatnya yang ia ajak berjuang bertahun tahun untuk merebut kekuasaan telah diseret dengan kepala tertutup kain hitam dan akhirnya keluar dari pintu baja itu sebagai sebuah mayat dengan wajah tanpa expresi. Dan saat saat itu akan tiba. Ia ingat pesan terakhir para sahabatnya, dan mereka ingin agar ia tidak pernah menyerah. 
Terlalu banyak siksaan yang ia alami sehingga ia tidak lagi merasa sakit, dan ketakutan akan kematian sudah pergi bersama dengan kumpulan debu yang melewati jendela penjara itu.
Diluar pintu baja itu,istrinya dengan setia menunggu sejak matahari beranjak terbit hingga senja. setiap senja,ia akan pulang kerumah dan bercerita kepada anak anaknya bahwa ayahnya tinggal bersama dengan para pejabat Negara dan sangat sibuk sehingga tidak sempat menjenguk mereka. Ketika pagi,ayam berkokok, ia akan kembali ke pintu baja itu. Dan hari ini mungkin hari terakhir ia duduk di dekat pintu itu dan berpindah duduk ke kumpulan batu nisan yang tertulis nama suaminya. ia melarang anak anaknya keluar rumah agar nasib mereka tidak seperti kakak tertuanya yang berbadan tegap dan akhirnya tertembak di pusat kota dan tergeletak dijalanan hingga teman temannya mengubur dan berjanji meneruska perjuangan untuk sebuah revolusi.
Detik demi detik berlalu, lonceng berdentang sebelas kali yang artinya tinggal satu jam lagi ia akan menghadapi kematiannya. Ketika beberapa laki laki kekar mendatanginya, ia meminta sebuah permintaan terakhir agar ia bisa berdiri di dekat pintu baja itu, dan pria kekar itu mengabulkan permintaan sederhana itu.  dengan langkah yang terseret ia berjalan ke pintu itu, mmerasa ada langkah yang mendekat, wanita tua ini memandang ke jendela baja yang berisi jeruji besi itu dan akhirnya setelah beberapa bulan, akhirnya mereka bertemu walau hanya beberapa meter. Ia memandang keluar dan melihat dari kejauhan seorang wanita duduk tanpa harapan. Setelah beberapa detik mereka saling pandang dan terlihat senyum bahagia di kedua wajah itu.  diantara mereka tidak ada yang sanggup mengeluarkan sepatah kata, hanya air mata yang mengalir dari mata tua wanita itu, entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan. Dan akhirnya beberapa pria kekar itu menarik laki laki tua ini menuju tiang gantungan.
Lonceng berdentang dua belas kali dan seorang algojo menarik sebuah tuas besi yang sudah berkarat. Terdengar suara kayu dan tali bergesek.
  “Selamat tinggal pak tua”, kata wanita paruh baya itu pelan.

No comments:

Post a Comment