23-07-2014
03.26
Wanita
paruh baya itu terduduk di depan sebuah pintu baja yang memisahkan antara dunia
luar dan kumpulan sel pengap tempat para pelaku kejahatan dan korban ketidak
adilan menerima hukuman yang dianggap setimpal, air matanya terus mengalir
jatuh ke tanah, wajah pucat terus menghiasi wajah tuanya yang sudah lama tidak
tersenyum. Sudah sejak pagi ia menunggu di depan pintu baja itu, berharap
penjaga penjaga berwajah bengis itu memiliki sedikit belas kasihan untuk memberikan
kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan suaminya untuk terakhir kalinya, hari
itu suaminya akan di eksekusi, dan tiang gantungan akan mengakhiri perjuangan
seseorang yang sudah lebih dari 30 tahun ia damping berjuang, atas sebuah
idealisme yang sangat ia percayai.
Dibalik
pintu baja itu, terdapat sebuah sel kecil dan didalamnya terdapat seseorang
paruh baya berumur sekitar 50an dengan
wajah dengan jagut dan kumis yang lebat. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh
dengan luka, tatapan matanya kosong, seolah keputus asaan sudah datang
kepadanya. Tak terlihat semangat seperti ketika ia berorasi dan membakar
semangat para pengikutnya yang melawan para penguasa yang selalu
mengatasnamakan rakyat. Beberapa jam lagi,ia akan menghadapi kematian, kamatian
yang sudah datang kepada para sahabatnya terlebih dahulu. Ia berjuang melawan
para penguasa yang mendapatkan kekuasaan dengan segala cara. Dan hari ini ia
merasa kalah. Bukan kematian yang membuatnya risau tapi akhir perjuangannya
yang membuatnya merasa sedih. Terlalu banyak hal yang telah ia korbankan untuk
sebuah gelar yang kini telah ia dapat, yaitu penghianat.
Ketika
pahlawan sebenarnya dianggap sebagai seorang penghianat, itulah mereka.
Perjuangan mereka untuk merubah nasib manusia-manusia yang hidupnya tanpa arti
di atur oleh sekelompok politisi yang hanya peduli akan kelangsungan hidupnya.
Ia ingat beberapa hari lalu ketika sahabat- sahabatnya yang ia ajak berjuang
bertahun tahun untuk merebut kekuasaan telah diseret dengan kepala tertutup
kain hitam dan akhirnya keluar dari pintu baja itu sebagai sebuah mayat dengan
wajah tanpa expresi. Dan saat saat itu akan tiba. Ia ingat pesan terakhir para
sahabatnya, dan mereka ingin agar ia tidak pernah menyerah.
Terlalu
banyak siksaan yang ia alami sehingga ia tidak lagi merasa sakit, dan ketakutan
akan kematian sudah pergi bersama dengan kumpulan debu yang melewati jendela
penjara itu.
Diluar
pintu baja itu,istrinya dengan setia menunggu sejak matahari beranjak terbit
hingga senja. setiap senja,ia akan pulang kerumah dan bercerita kepada anak
anaknya bahwa ayahnya tinggal bersama dengan para pejabat Negara dan sangat
sibuk sehingga tidak sempat menjenguk mereka. Ketika pagi,ayam berkokok, ia
akan kembali ke pintu baja itu. Dan hari ini mungkin hari terakhir ia duduk di
dekat pintu itu dan berpindah duduk ke kumpulan batu nisan yang tertulis nama
suaminya. ia melarang anak anaknya keluar rumah agar nasib mereka tidak seperti
kakak tertuanya yang berbadan tegap dan akhirnya tertembak di pusat kota dan
tergeletak dijalanan hingga teman temannya mengubur dan berjanji meneruska
perjuangan untuk sebuah revolusi.
Detik
demi detik berlalu, lonceng berdentang sebelas kali yang artinya tinggal satu
jam lagi ia akan menghadapi kematiannya. Ketika beberapa laki laki kekar mendatanginya,
ia meminta sebuah permintaan terakhir agar ia bisa berdiri di dekat pintu baja
itu, dan pria kekar itu mengabulkan permintaan sederhana itu. dengan langkah yang terseret ia berjalan ke
pintu itu, mmerasa ada langkah yang mendekat, wanita tua ini memandang ke
jendela baja yang berisi jeruji besi itu dan akhirnya setelah beberapa bulan,
akhirnya mereka bertemu walau hanya beberapa meter. Ia memandang keluar dan
melihat dari kejauhan seorang wanita duduk tanpa harapan. Setelah beberapa
detik mereka saling pandang dan terlihat senyum bahagia di kedua wajah
itu. diantara mereka tidak ada yang
sanggup mengeluarkan sepatah kata, hanya air mata yang mengalir dari mata tua
wanita itu, entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan. Dan akhirnya
beberapa pria kekar itu menarik laki laki tua ini menuju tiang gantungan.
Lonceng
berdentang dua belas kali dan seorang algojo menarik sebuah tuas besi yang
sudah berkarat. Terdengar suara kayu dan tali bergesek.
“Selamat tinggal pak tua”, kata wanita paruh
baya itu pelan.
No comments:
Post a Comment