Friday, 20 May 2016

Save yourself from yourself, but we’re become the parasite…




Itu adalah kalimat yang keluar dari mulut seorang aktivis lingkungan dan juga vocalis band Navicula, beliau adalah Gede Roby. Makna dari kalimat tersebut adalah, bumi tempat kita tinggal masih baik baik saja namun kita sebagai manusia secara sadar maupun tidak sadar telah merusak bumi dengan berbagai macam alasan dan pembenaran. Entah untuk kesejahteraan masyarakat maupun untuk keserakahan pribadi. Tekhnologi dan gaya hidup yang serba instan menyebabkan kita tak terasa merusak alam tempat kita tinggal,contoh: bisakah anda pergi kesebuah tempat tanpa menggunakan kendaraan bermotor? Atau bisakah anda tidak menggunakan listrik selama lebih dari 24 jam? Pertanyaan itu untuk anda jawab sendiri.
Antara kertas dan harimau.
Tulisan ini saya buat bukan karna saya sok ingin jadi pahlawan tapi masukan masukan dari beberapa obrolan dengan beberapa aktivis linggkungan tidak bisa saya kurung di dalam pikiran saya. Karna saya baru tahu jika beberapa hal yang sepele sudah mengakibatkan beberapa masalah yang besar, sebagai contoh: berapa kertas yang anda habiskan dalam sehari, dan berapa jumlah kertas yang terbuang percuma dalam sehari?, sebuah pabrik kertas di pulau Sumatra menggunakan kayu dari hutan – hutan yang notabene merupakan habitat harimau Sumatra yang kini jumlahnya kurang dari 400 ekor, sehingga dengan hilangnya hutan tersebut, habitat harimau Sumatra serta rantai makan di hutan tersebut juga terganggu sehingga banyak dari harimau Sumatra yang akhirnya kepemukiman masyarakat untuk mencari makanan bahkan beberapa mati mengenaskan terkena jebakan yang dibuat oleh pabrik kertas tersebut. Untungnya ada beberapa aktivis yang mau terjun menyelamatkan harimau Sumatra yang mungkin beberapa tahun lagi hanya akan tinggal cerita. Karna harimau Sumatra cukup sulit untuk berkembang biak sedangkan tingkat perburuan dan habitat yang menyediakan makanan dan tempat tinggal untuk harimau Sumatra sudah terganggu oleh beberapa pabrik disana.
Kelapa sawit VS orangutan
Lain disumatra,lain pula di Kalimantan, di sini kerusakan ekologi tidak kalah mengenaskan, mungkin isu yang santer terdengar adalah isu tentang pembantaian orang utan. Pembantaian disini tidak sekedar berarti “penyiksaan” terhadap orang utan secara fisik tetapi juga pembunuhan secara pelan pelan. Beberapa waktu yang lalu santer diberitakan bagaimana seekor orangutan dibakar hidup hidup sehingga mengalami luka bakar 80% dan anda dapat saksikan video tersebut di youtube.
Pulau dengan julukan paru paru dunia kini sedang mengalami kondisi dimana hutan terus dibabat untuk dijadikan kebun kelapa sawit dan seperti disumatra, orangutanlah yang menjadi korban. Habitat aslinya habis dibabat oleh perusahaan perusahaan kelapa sawit dan yang lebih parah, beberapa perusahaan itu adalah perusahaan asing. Dan aktivis aktivis yang peduli tidak bisa berbuat banyak karna rakyat jelata pasti kalah dengan pengusaha yang di backing oleh penguasa, namun para aktivis orangutan ini tidak mau menyerah, mereka berusaha bagaimana caranya agar orangutan masih bisa menjadi hewan asli Indonesia. Salah satunya dengan kampanye penyelamatan orang utan (save orangutan) banyak musisi musisi yang akhirnya membuat lagu tentang orangutan dan dari kampanye kampanye penyelamatan orang utan ini saya tahu jika kehidupan d Kalimantan sangat berbeda dengan yang qta bayangkan. Mengapa aktivis aktivis orangutan sulit untuk menyelamatkan orang utan dan masih terjadi pembantaian oran utan di Kalimantan, itu karena pekerja pekerja di kebun kebun kelapa sawit sulit untuk bisa melawan mandor2 kelapa sawit, jadi agar tidak dipecat ya mereka harus mengikuti perintah mandor, termasuk membunuh orang utan. Mungkin hal nyata yang bisa dibuat oleh para aktivis orangutan adalah membuat konservasi - konservasi untuk orangutan namun semasih ada orang utan yang masuk kedalam perkebuna kelapa sawit maka jumlah orangutan akan terus berkurang. Walaupun orangutan memiliki IQ mendekati manusia, namun orangutan tidak bisa membaca tulisan bahwa area yang dulunya adalah habitatnya kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit dan jika memasuki daerah tersebut maka parang,kelewang dan senjata tajam lainnya sudah siap untuk menebas. Belum lagi orangutan sering dijadikan hewan peliharaan yang sangat mahal, sehingga banyak pemburu yang memburu dan menjual orangutan dan mungkin suatu saat orangutan hanya akan menjadi dongeng atau legenda.. ayo para aktivis orangutan,jangan menyerah,, selamatkan orangutan!!!
Dijual Tanah Bali!!
Dan sekaran kita akan membahas pulau seribu pura, pulau dewata pulaunya para dewa. Pulau Bali adalah pulau kecil ditengah nusantara namun pesonanya luar biasa, hampir seluruh orang didunia ingin tinggal di Bali. Setidaknya berlibur di pulau yang terkenal karena seni dan budayanya. Namun, menjadi destinasi wisata menyebabkan bagaimana Pulau Bali sedikit demi sedikit menuju pulau yang ekologinya rusak parah. I’m graduate in tourism but I never want to work in tourism. Itu pidato wisuda saya karna ketika tahu jika kehidupan di pariwisata juga berarti “menyewakan” pulau ini. Anda boleh mengaggap saya munafik,dengan training di sebuah hotel di daerah seminyak saya sudah bisa menghasilkan beberapa juta namun disana juga saya belajar bahwa dengan keserakahan orang orang yang memiliki hotel dan juga menyewakan tempat pariwisata secara tidak langsung juga menyebabkan kemacetan, menjadikan bali selatan menjadi sumpek dan juga penuh polusi.. ya karna zaman sekarang jika berjalan 100 meter anda memerlukan kendaraan bermotor. Dan sialnya, akhirnya saya belajar jika orang Bali yang bekerja di pariwisata kurang dari 80% dan sisanya berasal dari jawa timur atau daerah lain. Bukan saya mempermasalahkan baerapa persen jumlah orang Bali yang bekerja di sector ini namun saya berpikir bahwa setidaknya leluhur dan juga alam sudah menyiapkan kesejahteraan untuk anak cucunya. Utamakanlah orang Bali dulu, jika kurang barulah berikan kesempatan orang dari luar pulau Bali. Lucu jika pendatang memamfaatkan seni dan budaya Bali namun penduduk asli hanya menjadi penonton dan tetap dalam kemiskinan.
Selain itu trend bisnis property ( jual beli rumah & Tanah) sekarang menjadi trend, ya gak perlu heran, keperluan semakin complex, harga harga semakin mahal dan tekhnologi semakin canggih. Begitu juga dengan keserakahan orang orang Bali. Cepat tergiur kemewahan dan akhirnya menjual tanah yang diwariskan oleh leluhurnya sebagai cara instan. Sehingga gak heran jika melihat di pinggir jalan sering terdapat plang dengan tulisan “dijual tanah”. Yang lebih parah, saking meledaknya jumlah penduduk di Bali, dan sulitnya mencari tanah untuk rumah tinggal akhirnya sawah sawah di timbun untuk dijadikan rumah/perumahan. Jika terusseperti ini maka ekologi Bali benar benar hancur. Masyarakat hanya kebagian polusi dan juga permasalahan yang di tinggal oleh para konglomerat.. saya hanya bisa bergumam dalam hati “ semoga Karma ada untuk manusia serakah seperti mereka”. Memang menjual tanah itu hak mereka, dan mungkin mereka mengalami masalah masalah yang pemecahannya hanya menjual barang yang ada namun jika tidak ada orang serakah yang terus mencari dan menawarkan kemewahan mungkin hal ini bisa sedikit ditanggulangi..
 “semoga Bali tetap manjadi tempat yang indah ”

No comments:

Post a Comment