Itu
adalah kalimat yang keluar dari mulut seorang aktivis lingkungan dan juga
vocalis band Navicula, beliau adalah Gede Roby. Makna dari kalimat tersebut
adalah, bumi tempat kita tinggal masih baik baik saja namun kita sebagai
manusia secara sadar maupun tidak sadar telah merusak bumi dengan berbagai
macam alasan dan pembenaran. Entah untuk kesejahteraan masyarakat maupun untuk
keserakahan pribadi. Tekhnologi dan gaya hidup yang serba instan menyebabkan
kita tak terasa merusak alam tempat kita tinggal,contoh: bisakah anda pergi
kesebuah tempat tanpa menggunakan kendaraan bermotor? Atau bisakah anda tidak
menggunakan listrik selama lebih dari 24 jam? Pertanyaan itu untuk anda jawab sendiri.
Antara
kertas dan harimau.
Tulisan
ini saya buat bukan karna saya sok ingin jadi pahlawan tapi masukan masukan
dari beberapa obrolan dengan beberapa aktivis linggkungan tidak bisa saya
kurung di dalam pikiran saya. Karna saya baru tahu jika beberapa hal yang
sepele sudah mengakibatkan beberapa masalah yang besar, sebagai contoh: berapa
kertas yang anda habiskan dalam sehari, dan berapa jumlah kertas yang terbuang
percuma dalam sehari?, sebuah pabrik kertas di pulau Sumatra menggunakan kayu
dari hutan – hutan yang notabene merupakan habitat harimau Sumatra yang kini
jumlahnya kurang dari 400 ekor, sehingga dengan hilangnya hutan tersebut,
habitat harimau Sumatra serta rantai makan di hutan tersebut juga terganggu
sehingga banyak dari harimau Sumatra yang akhirnya kepemukiman masyarakat untuk
mencari makanan bahkan beberapa mati mengenaskan terkena jebakan yang dibuat
oleh pabrik kertas tersebut. Untungnya ada beberapa aktivis yang mau terjun
menyelamatkan harimau Sumatra yang mungkin beberapa tahun lagi hanya akan
tinggal cerita. Karna harimau Sumatra cukup sulit untuk berkembang biak
sedangkan tingkat perburuan dan habitat yang menyediakan makanan dan tempat
tinggal untuk harimau Sumatra sudah terganggu oleh beberapa pabrik disana.
Kelapa
sawit VS orangutan
Lain
disumatra,lain pula di Kalimantan, di sini kerusakan ekologi tidak kalah
mengenaskan, mungkin isu yang santer terdengar adalah isu tentang pembantaian
orang utan. Pembantaian disini tidak sekedar berarti “penyiksaan” terhadap
orang utan secara fisik tetapi juga pembunuhan secara pelan pelan. Beberapa
waktu yang lalu santer diberitakan bagaimana seekor orangutan dibakar hidup
hidup sehingga mengalami luka bakar 80% dan anda dapat saksikan video tersebut
di youtube.
Pulau
dengan julukan paru paru dunia kini sedang mengalami kondisi dimana hutan terus
dibabat untuk dijadikan kebun kelapa sawit dan seperti disumatra, orangutanlah
yang menjadi korban. Habitat aslinya habis dibabat oleh perusahaan perusahaan
kelapa sawit dan yang lebih parah, beberapa perusahaan itu adalah perusahaan
asing. Dan aktivis aktivis yang peduli tidak bisa berbuat banyak karna rakyat
jelata pasti kalah dengan pengusaha yang di backing oleh penguasa, namun para
aktivis orangutan ini tidak mau menyerah, mereka berusaha bagaimana caranya
agar orangutan masih bisa menjadi hewan asli Indonesia. Salah satunya dengan
kampanye penyelamatan orang utan (save orangutan) banyak musisi musisi yang
akhirnya membuat lagu tentang orangutan dan dari kampanye kampanye penyelamatan
orang utan ini saya tahu jika kehidupan d Kalimantan sangat berbeda dengan yang
qta bayangkan. Mengapa aktivis aktivis orangutan sulit untuk menyelamatkan
orang utan dan masih terjadi pembantaian oran utan di Kalimantan, itu karena
pekerja pekerja di kebun kebun kelapa sawit sulit untuk bisa melawan mandor2
kelapa sawit, jadi agar tidak dipecat ya mereka harus mengikuti perintah
mandor, termasuk membunuh orang utan. Mungkin hal nyata yang bisa dibuat oleh
para aktivis orangutan adalah membuat konservasi - konservasi untuk orangutan
namun semasih ada orang utan yang masuk kedalam perkebuna kelapa sawit maka
jumlah orangutan akan terus berkurang. Walaupun orangutan memiliki IQ mendekati
manusia, namun orangutan tidak bisa membaca tulisan bahwa area yang dulunya
adalah habitatnya kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit dan jika memasuki
daerah tersebut maka parang,kelewang dan senjata tajam lainnya sudah siap untuk
menebas. Belum lagi orangutan sering dijadikan hewan peliharaan yang sangat
mahal, sehingga banyak pemburu yang memburu dan menjual orangutan dan mungkin
suatu saat orangutan hanya akan menjadi dongeng atau legenda.. ayo para aktivis
orangutan,jangan menyerah,, selamatkan orangutan!!!
Dijual
Tanah Bali!!
Dan
sekaran kita akan membahas pulau seribu pura, pulau dewata pulaunya para dewa.
Pulau Bali adalah pulau kecil ditengah nusantara namun pesonanya luar biasa,
hampir seluruh orang didunia ingin tinggal di Bali. Setidaknya berlibur di
pulau yang terkenal karena seni dan budayanya. Namun, menjadi destinasi wisata
menyebabkan bagaimana Pulau Bali sedikit demi sedikit menuju pulau yang
ekologinya rusak parah. I’m graduate in
tourism but I never want to work in tourism. Itu pidato wisuda saya karna
ketika tahu jika kehidupan di pariwisata juga berarti “menyewakan” pulau ini.
Anda boleh mengaggap saya munafik,dengan training di sebuah hotel di daerah
seminyak saya sudah bisa menghasilkan beberapa juta namun disana juga saya
belajar bahwa dengan keserakahan orang orang yang memiliki hotel dan juga
menyewakan tempat pariwisata secara tidak langsung juga menyebabkan kemacetan,
menjadikan bali selatan menjadi sumpek dan juga penuh polusi.. ya karna zaman
sekarang jika berjalan 100 meter anda memerlukan kendaraan bermotor. Dan
sialnya, akhirnya saya belajar jika orang Bali yang bekerja di pariwisata
kurang dari 80% dan sisanya berasal dari jawa timur atau daerah lain. Bukan
saya mempermasalahkan baerapa persen jumlah orang Bali yang bekerja di sector
ini namun saya berpikir bahwa setidaknya leluhur dan juga alam sudah menyiapkan
kesejahteraan untuk anak cucunya. Utamakanlah orang Bali dulu, jika kurang
barulah berikan kesempatan orang dari luar pulau Bali. Lucu jika pendatang
memamfaatkan seni dan budaya Bali namun penduduk asli hanya menjadi penonton
dan tetap dalam kemiskinan.
Selain
itu trend bisnis property ( jual beli rumah & Tanah) sekarang menjadi trend,
ya gak perlu heran, keperluan semakin complex, harga harga semakin mahal dan
tekhnologi semakin canggih. Begitu juga dengan keserakahan orang orang Bali.
Cepat tergiur kemewahan dan akhirnya menjual tanah yang diwariskan oleh
leluhurnya sebagai cara instan. Sehingga gak heran jika melihat di pinggir
jalan sering terdapat plang dengan tulisan “dijual tanah”. Yang lebih parah,
saking meledaknya jumlah penduduk di Bali, dan sulitnya mencari tanah untuk
rumah tinggal akhirnya sawah sawah di timbun untuk dijadikan rumah/perumahan.
Jika terusseperti ini maka ekologi Bali benar benar hancur. Masyarakat hanya
kebagian polusi dan juga permasalahan yang di tinggal oleh para konglomerat..
saya hanya bisa bergumam dalam hati “ semoga Karma ada untuk manusia serakah
seperti mereka”. Memang menjual tanah itu hak mereka, dan mungkin mereka
mengalami masalah masalah yang pemecahannya hanya menjual barang yang ada namun
jika tidak ada orang serakah yang terus mencari dan menawarkan kemewahan
mungkin hal ini bisa sedikit ditanggulangi..
“semoga Bali tetap manjadi tempat yang indah ”
No comments:
Post a Comment