Aku ingat bagaimana ketika kecil ayah
selalu menceritakan kisah mahabrata dan Ramayana walaupun hanya sebagian kecil
yang aku ingat namun aku selalu bercita cita kelak ketika aku memiliki seorang
putra maka aku akan menceritakan kisah yang sama dan akan mengajarkan bagaimana
menjadi manusia yang baik. Namun ini bukanlah sebuah curhatan namun sesuatu
yang sebenarnya sudah terjadi dan dinamakan “ Kontradiksi”.
1. Cara
pandang
Dalam Mahabrata dan Ramayana, selalu
digambarkan beberapa tokoh dengan karakter dan peran mereka begitu juga
bagaimana takdir mereka harus dijalani dan bagaimana kita sebagai manusia bisa
melihat mereka dari berbagai macam sisi.
Dan itulah salah satu kemampuan yang tidak dimiliki oleh semua orang
yaitu bagaimana manusia dengan kedua belah mata yang dimiliki bisa melihat
sesuatu dengan tepat. Ada kata-kata dari mahavatar sree babaji yang digunakan
untuk memberitahu manusia bagaimana cara melihat orang lain dengan benar yaitu:
“every saint has the past and every sinner has the future” seseorang yang
paling suci pasti memeiliki masa lalu yang kelam dan seorang pendosa juga pasti
memiliki kesempatan meiliki masa depan yang lebih baik. Seperti kisah seorang
perampok di sebuah hutan yang selalu menyakiti dan membunuh tanpa mengenal rasa
belas kasihan, sehingga sangat ditakuti oleh banyak orang. Namun suatu saat ia
bertemu dengan seorang rsi kemudia ia berniat merampok rsi tersebut namun rsi
tersebut memiliki wajah yang sangat damai sehingga perampok ini bersujud dan
memohon agar semua dosanya diampuni dan ingin memiliki wajah yang sangat damai
seperti beliau. Dan rsi tersebut menganjurkan agar sang perampok melakukan
penebusan dosa dengan cara bertapa. Sehingga si perampok ini bertapa hingga
tubuhnya menjadi sarang semut dan siapa menyangka bahwa perampok itu juga
akhirnya juga menjadi pencipta epos Ramayana. Yah beliau adalah bhagawan
Valmiki.
Namun
saat ini dimasyarakat istilah“every saint has the past and every sinner has the
future” sudah terlupakan dan mungkin dimasyarakat sudah tercipta istilah baru
yaitu ketika seseorang sudah melakukan sebuah kesalahan maka seumur hidup orang
tersebut harus menanggung kesalahannya di mata masyarakat. Seolah – olah
masyarakat berpikir bahwa sifat manusia
tidak bisa berubah. Selain itu masyarakat lebih tertarik dengan kekurangan
orang lain di banding dengan bagaimana mengakui prestasi seseorang. Sebagai
contoh, acara infotaiment yang menyajikan gossip – gossip tentang artis menjadi
acara yang hampir bisa di temui setiap hari. Di masyarakat, ikut campur menilai
orang lain di sisi negativenyasudah menjadi hal yang lumrah. Dan kadang saya
ingin bertanya dengan masyarakat seperti itu. “ hak anda apa sih menunjuk
seseorang dari kesalah yang diperbuat”? dan yang lebih parah ketika seseorang mengatakan
sisi negative seseorang dari hanya apa yang ia dengar. So beberapa korban
mungkin hanya akan berkata” what do you think of me is not of my business,
apapun yang kamu pikirkan tentang saya, terserahlah… bukankah melihat sesuatu
dari sisi positive itu lebih baik?
2. Seni
peran
Aku
lahir dan besar di Bali dan bagaimanapun aku harus mengikuti aturan aturan yang
ada di Bali termasuk menjadi korban dari aturan tersebut. Dalam aturan
masyarakat Bali, dikenal istilah Kasta, yaitu penggolongan kelas masyarakat
menjadi beberapa golongan dan sesuatu yang menyebabkan beberapa golongan
masyarakat harus terpinggirkan untuk beberapa hal. Seperti contoh: banyak orang
yang harus dipisahkan dengan alasan kasta, dan yang lebih parah adalah
keturunan dengan kasta tinggi sering menganggap masyrakat tanpa kasta dengan
sebelah mata. Dan secara tidak langsung juga menjadi alasan perpecahan. Seperti
tulisan saya diatas, semua orang memiliki perannya sendiri sendiri wlaupun
kehidupan bukanlah sebuah panggung sandiwara.
Banyak
cerita dimasa lalu yang menceritakan bahwa seorang murid jika ingin menuntut
ilmu maka harus pergi ke tengah hutan untuk mencari seorang guru dan guru yang
dimaksud adalah seorang yang sudah melewati 4 tahap kehidupan yaitu:
·
Brahmacari: tahap
menuntut ilmu ataupun mencari ilmu pengetahuan
·
Grahasta: masa memulai
kehidupan rumah tangga
·
Wanaprasta: memulai
pengasingan dan memulai hidup meinggalkan keduniawian
·
Bhiksuka/shayasin:
mencari moksa ataupun pelepasan diri menuju alam nirwana.
Sehingga ajaran – ajaran yang diberikan adalah
ajaran yang menyebabkan muridnya menjadi manusia yang jauh lebih baik karena
diajarkan oleh seorang guru yang sudah mengalami semua tahap kehidupan. Namun
saat ini, guru kadang bukanlah seorang guru, seperti contoh: banyak mahasiswa
yang harus mengulang ataupun tidak lulus karena memiliki masalah pribadi dengan
sang guru. Di agama lain, banyak sosok yang dianggap guru malah memprovokasi
untuk membunuh dan menyiksa atas nama agama dan masih banyak contoh lainnya.
Seperti sosok pemimpin yang seharusnya
dijemput dan diminta oleh masyarakat untuk memimpin bukan mengajukan dan
membayar masyarakat untuk menjadi pemimpin dan pada akhirnya harus berakhir di
lembaga permasyarakatan karena melalaikan tugas yang diberikan. Atau menjadi
seorang penghibur di dunia music, namun marah- marah ketika karyanya dinikmati
oleh masyarakat tanpa membayar (dibajak) dan menjadikan music untuk mencari
kekayaan taanpa idialisme. dan apa peran yang anda inginkan? Jalankanlah peran
dikehidupan anda tanpa keluar dari jalur positif peran anda.
3. Cinta
atau seks?
Apakah
anda memiliki seorang yang sangat anda sayangi dan mau melakukan apa saja untuk
pasangan anda? Namun saat ini antara cinta dan seks menjadi sesuatu yang
bertolak belakang namun juga kadang berkaitan. Semoga anda tau maksud saya.
Hampir sebagian orang sudah melakukan hubungan seks sebelum memiliki ikatan
pernikahan. Dan hal ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa di zaman ini, dan
pada akhirnya teknologi kadang menjadi kambing hitam. Dan bahkan ada banyak
remaja ataupun masyarakat dewasa yang menjadikan hal ini sebagai sebuah
kesenangan atau hobby. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau hal ini sudah mejadi
kebutuhan di sebuah hubungan, entah itu sah atau tidak. Namun sebenarnya tanpa
disadari hal ini bisa menimbulkan sesuatu yang sangat berbahaya seperti
menularnya penyakit HIV/AIDS atau kangker servik pada remaja yang sudah
melakukan hubungan seks sebelum 21 tahun. Dan Ini sudah menjadi sebuah
kontradisksi moral yang sangat parah.. dan hubungan yang seharusnya menjadi
hubungan suci menjadi sebuah dosa karena dilakukan tanpa ikatan pernikahan. Dan
saya sangat kagum dengan beberapa teman yang bisa melakukan pacaran sehat tanpa
seks, dan mungkin itulah cinta sejati..,.
No comments:
Post a Comment