Friday, 20 May 2016

Kontradiksi/ kemerosotan




          Aku ingat bagaimana ketika kecil ayah selalu menceritakan kisah mahabrata dan Ramayana walaupun hanya sebagian kecil yang aku ingat namun aku selalu bercita cita kelak ketika aku memiliki seorang putra maka aku akan menceritakan kisah yang sama dan akan mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik. Namun ini bukanlah sebuah curhatan namun sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi dan dinamakan “ Kontradiksi”.
1.     Cara pandang
          Dalam Mahabrata dan Ramayana, selalu digambarkan beberapa tokoh dengan karakter dan peran mereka begitu juga bagaimana takdir mereka harus dijalani dan bagaimana kita sebagai manusia bisa melihat mereka dari berbagai macam sisi.  Dan itulah salah satu kemampuan yang tidak dimiliki oleh semua orang yaitu bagaimana manusia dengan kedua belah mata yang dimiliki bisa melihat sesuatu dengan tepat. Ada kata-kata dari mahavatar sree babaji yang digunakan untuk memberitahu manusia bagaimana cara melihat orang lain dengan benar yaitu: “every saint has the past and every sinner has the future” seseorang yang paling suci pasti memeiliki masa lalu yang kelam dan seorang pendosa juga pasti memiliki kesempatan meiliki masa depan yang lebih baik. Seperti kisah seorang perampok di sebuah hutan yang selalu menyakiti dan membunuh tanpa mengenal rasa belas kasihan, sehingga sangat ditakuti oleh banyak orang. Namun suatu saat ia bertemu dengan seorang rsi kemudia ia berniat merampok rsi tersebut namun rsi tersebut memiliki wajah yang sangat damai sehingga perampok ini bersujud dan memohon agar semua dosanya diampuni dan ingin memiliki wajah yang sangat damai seperti beliau. Dan rsi tersebut menganjurkan agar sang perampok melakukan penebusan dosa dengan cara bertapa. Sehingga si perampok ini bertapa hingga tubuhnya menjadi sarang semut dan siapa menyangka bahwa perampok itu juga akhirnya juga menjadi pencipta epos Ramayana. Yah beliau adalah bhagawan Valmiki.
Namun saat ini dimasyarakat istilah“every saint has the past and every sinner has the future” sudah terlupakan dan mungkin dimasyarakat sudah tercipta istilah baru yaitu ketika seseorang sudah melakukan sebuah kesalahan maka seumur hidup orang tersebut harus menanggung kesalahannya di mata masyarakat. Seolah – olah masyarakat berpikir  bahwa sifat manusia tidak bisa berubah. Selain itu masyarakat lebih tertarik dengan kekurangan orang lain di banding dengan bagaimana mengakui prestasi seseorang. Sebagai contoh, acara infotaiment yang menyajikan gossip – gossip tentang artis menjadi acara yang hampir bisa di temui setiap hari. Di masyarakat, ikut campur menilai orang lain di sisi negativenyasudah menjadi hal yang lumrah. Dan kadang saya ingin bertanya dengan masyarakat seperti itu. “ hak anda apa sih menunjuk seseorang dari kesalah yang diperbuat”? dan yang lebih parah ketika seseorang mengatakan sisi negative seseorang dari hanya apa yang ia dengar. So beberapa korban mungkin hanya akan berkata” what do you think of me is not of my business, apapun yang kamu pikirkan tentang saya, terserahlah… bukankah melihat sesuatu dari sisi positive itu lebih baik?
2.     Seni peran
Aku lahir dan besar di Bali dan bagaimanapun aku harus mengikuti aturan aturan yang ada di Bali termasuk menjadi korban dari aturan tersebut. Dalam aturan masyarakat Bali, dikenal istilah Kasta, yaitu penggolongan kelas masyarakat menjadi beberapa golongan dan sesuatu yang menyebabkan beberapa golongan masyarakat harus terpinggirkan untuk beberapa hal. Seperti contoh: banyak orang yang harus dipisahkan dengan alasan kasta, dan yang lebih parah adalah keturunan dengan kasta tinggi sering menganggap masyrakat tanpa kasta dengan sebelah mata. Dan secara tidak langsung juga menjadi alasan perpecahan. Seperti tulisan saya diatas, semua orang memiliki perannya sendiri sendiri wlaupun kehidupan bukanlah sebuah panggung sandiwara.
Banyak cerita dimasa lalu yang menceritakan bahwa seorang murid jika ingin menuntut ilmu maka harus pergi ke tengah hutan untuk mencari seorang guru dan guru yang dimaksud adalah seorang yang sudah melewati 4 tahap kehidupan yaitu:
·        Brahmacari: tahap menuntut ilmu ataupun mencari ilmu pengetahuan
·        Grahasta: masa memulai kehidupan rumah tangga
·        Wanaprasta: memulai pengasingan dan memulai hidup meinggalkan keduniawian
·        Bhiksuka/shayasin: mencari moksa ataupun pelepasan diri menuju alam nirwana.
 Sehingga ajaran – ajaran yang diberikan adalah ajaran yang menyebabkan muridnya menjadi manusia yang jauh lebih baik karena diajarkan oleh seorang guru yang sudah mengalami semua tahap kehidupan. Namun saat ini, guru kadang bukanlah seorang guru, seperti contoh: banyak mahasiswa yang harus mengulang ataupun tidak lulus karena memiliki masalah pribadi dengan sang guru. Di agama lain, banyak sosok yang dianggap guru malah memprovokasi untuk membunuh dan menyiksa atas nama agama dan masih banyak contoh lainnya.
          Seperti sosok pemimpin yang seharusnya dijemput dan diminta oleh masyarakat untuk memimpin bukan mengajukan dan membayar masyarakat untuk menjadi pemimpin dan pada akhirnya harus berakhir di lembaga permasyarakatan karena melalaikan tugas yang diberikan. Atau menjadi seorang penghibur di dunia music, namun marah- marah ketika karyanya dinikmati oleh masyarakat tanpa membayar (dibajak) dan menjadikan music untuk mencari kekayaan taanpa idialisme. dan apa peran yang anda inginkan? Jalankanlah peran dikehidupan anda tanpa keluar dari jalur positif peran anda.
3.     Cinta atau seks?
Apakah anda memiliki seorang yang sangat anda sayangi dan mau melakukan apa saja untuk pasangan anda? Namun saat ini antara cinta dan seks menjadi sesuatu yang bertolak belakang namun juga kadang berkaitan. Semoga anda tau maksud saya. Hampir sebagian orang sudah melakukan hubungan seks sebelum memiliki ikatan pernikahan. Dan hal ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa di zaman ini, dan pada akhirnya teknologi kadang menjadi kambing hitam. Dan bahkan ada banyak remaja ataupun masyarakat dewasa yang menjadikan hal ini sebagai sebuah kesenangan atau hobby. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau hal ini sudah mejadi kebutuhan di sebuah hubungan, entah itu sah atau tidak. Namun sebenarnya tanpa disadari hal ini bisa menimbulkan sesuatu yang sangat berbahaya seperti menularnya penyakit HIV/AIDS atau kangker servik pada remaja yang sudah melakukan hubungan seks sebelum 21 tahun. Dan Ini sudah menjadi sebuah kontradisksi moral yang sangat parah.. dan hubungan yang seharusnya menjadi hubungan suci menjadi sebuah dosa karena dilakukan tanpa ikatan pernikahan. Dan saya sangat kagum dengan beberapa teman yang bisa melakukan pacaran sehat tanpa seks, dan mungkin itulah cinta sejati..,.

Save yourself from yourself, but we’re become the parasite…




Itu adalah kalimat yang keluar dari mulut seorang aktivis lingkungan dan juga vocalis band Navicula, beliau adalah Gede Roby. Makna dari kalimat tersebut adalah, bumi tempat kita tinggal masih baik baik saja namun kita sebagai manusia secara sadar maupun tidak sadar telah merusak bumi dengan berbagai macam alasan dan pembenaran. Entah untuk kesejahteraan masyarakat maupun untuk keserakahan pribadi. Tekhnologi dan gaya hidup yang serba instan menyebabkan kita tak terasa merusak alam tempat kita tinggal,contoh: bisakah anda pergi kesebuah tempat tanpa menggunakan kendaraan bermotor? Atau bisakah anda tidak menggunakan listrik selama lebih dari 24 jam? Pertanyaan itu untuk anda jawab sendiri.
Antara kertas dan harimau.
Tulisan ini saya buat bukan karna saya sok ingin jadi pahlawan tapi masukan masukan dari beberapa obrolan dengan beberapa aktivis linggkungan tidak bisa saya kurung di dalam pikiran saya. Karna saya baru tahu jika beberapa hal yang sepele sudah mengakibatkan beberapa masalah yang besar, sebagai contoh: berapa kertas yang anda habiskan dalam sehari, dan berapa jumlah kertas yang terbuang percuma dalam sehari?, sebuah pabrik kertas di pulau Sumatra menggunakan kayu dari hutan – hutan yang notabene merupakan habitat harimau Sumatra yang kini jumlahnya kurang dari 400 ekor, sehingga dengan hilangnya hutan tersebut, habitat harimau Sumatra serta rantai makan di hutan tersebut juga terganggu sehingga banyak dari harimau Sumatra yang akhirnya kepemukiman masyarakat untuk mencari makanan bahkan beberapa mati mengenaskan terkena jebakan yang dibuat oleh pabrik kertas tersebut. Untungnya ada beberapa aktivis yang mau terjun menyelamatkan harimau Sumatra yang mungkin beberapa tahun lagi hanya akan tinggal cerita. Karna harimau Sumatra cukup sulit untuk berkembang biak sedangkan tingkat perburuan dan habitat yang menyediakan makanan dan tempat tinggal untuk harimau Sumatra sudah terganggu oleh beberapa pabrik disana.
Kelapa sawit VS orangutan
Lain disumatra,lain pula di Kalimantan, di sini kerusakan ekologi tidak kalah mengenaskan, mungkin isu yang santer terdengar adalah isu tentang pembantaian orang utan. Pembantaian disini tidak sekedar berarti “penyiksaan” terhadap orang utan secara fisik tetapi juga pembunuhan secara pelan pelan. Beberapa waktu yang lalu santer diberitakan bagaimana seekor orangutan dibakar hidup hidup sehingga mengalami luka bakar 80% dan anda dapat saksikan video tersebut di youtube.
Pulau dengan julukan paru paru dunia kini sedang mengalami kondisi dimana hutan terus dibabat untuk dijadikan kebun kelapa sawit dan seperti disumatra, orangutanlah yang menjadi korban. Habitat aslinya habis dibabat oleh perusahaan perusahaan kelapa sawit dan yang lebih parah, beberapa perusahaan itu adalah perusahaan asing. Dan aktivis aktivis yang peduli tidak bisa berbuat banyak karna rakyat jelata pasti kalah dengan pengusaha yang di backing oleh penguasa, namun para aktivis orangutan ini tidak mau menyerah, mereka berusaha bagaimana caranya agar orangutan masih bisa menjadi hewan asli Indonesia. Salah satunya dengan kampanye penyelamatan orang utan (save orangutan) banyak musisi musisi yang akhirnya membuat lagu tentang orangutan dan dari kampanye kampanye penyelamatan orang utan ini saya tahu jika kehidupan d Kalimantan sangat berbeda dengan yang qta bayangkan. Mengapa aktivis aktivis orangutan sulit untuk menyelamatkan orang utan dan masih terjadi pembantaian oran utan di Kalimantan, itu karena pekerja pekerja di kebun kebun kelapa sawit sulit untuk bisa melawan mandor2 kelapa sawit, jadi agar tidak dipecat ya mereka harus mengikuti perintah mandor, termasuk membunuh orang utan. Mungkin hal nyata yang bisa dibuat oleh para aktivis orangutan adalah membuat konservasi - konservasi untuk orangutan namun semasih ada orang utan yang masuk kedalam perkebuna kelapa sawit maka jumlah orangutan akan terus berkurang. Walaupun orangutan memiliki IQ mendekati manusia, namun orangutan tidak bisa membaca tulisan bahwa area yang dulunya adalah habitatnya kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit dan jika memasuki daerah tersebut maka parang,kelewang dan senjata tajam lainnya sudah siap untuk menebas. Belum lagi orangutan sering dijadikan hewan peliharaan yang sangat mahal, sehingga banyak pemburu yang memburu dan menjual orangutan dan mungkin suatu saat orangutan hanya akan menjadi dongeng atau legenda.. ayo para aktivis orangutan,jangan menyerah,, selamatkan orangutan!!!
Dijual Tanah Bali!!
Dan sekaran kita akan membahas pulau seribu pura, pulau dewata pulaunya para dewa. Pulau Bali adalah pulau kecil ditengah nusantara namun pesonanya luar biasa, hampir seluruh orang didunia ingin tinggal di Bali. Setidaknya berlibur di pulau yang terkenal karena seni dan budayanya. Namun, menjadi destinasi wisata menyebabkan bagaimana Pulau Bali sedikit demi sedikit menuju pulau yang ekologinya rusak parah. I’m graduate in tourism but I never want to work in tourism. Itu pidato wisuda saya karna ketika tahu jika kehidupan di pariwisata juga berarti “menyewakan” pulau ini. Anda boleh mengaggap saya munafik,dengan training di sebuah hotel di daerah seminyak saya sudah bisa menghasilkan beberapa juta namun disana juga saya belajar bahwa dengan keserakahan orang orang yang memiliki hotel dan juga menyewakan tempat pariwisata secara tidak langsung juga menyebabkan kemacetan, menjadikan bali selatan menjadi sumpek dan juga penuh polusi.. ya karna zaman sekarang jika berjalan 100 meter anda memerlukan kendaraan bermotor. Dan sialnya, akhirnya saya belajar jika orang Bali yang bekerja di pariwisata kurang dari 80% dan sisanya berasal dari jawa timur atau daerah lain. Bukan saya mempermasalahkan baerapa persen jumlah orang Bali yang bekerja di sector ini namun saya berpikir bahwa setidaknya leluhur dan juga alam sudah menyiapkan kesejahteraan untuk anak cucunya. Utamakanlah orang Bali dulu, jika kurang barulah berikan kesempatan orang dari luar pulau Bali. Lucu jika pendatang memamfaatkan seni dan budaya Bali namun penduduk asli hanya menjadi penonton dan tetap dalam kemiskinan.
Selain itu trend bisnis property ( jual beli rumah & Tanah) sekarang menjadi trend, ya gak perlu heran, keperluan semakin complex, harga harga semakin mahal dan tekhnologi semakin canggih. Begitu juga dengan keserakahan orang orang Bali. Cepat tergiur kemewahan dan akhirnya menjual tanah yang diwariskan oleh leluhurnya sebagai cara instan. Sehingga gak heran jika melihat di pinggir jalan sering terdapat plang dengan tulisan “dijual tanah”. Yang lebih parah, saking meledaknya jumlah penduduk di Bali, dan sulitnya mencari tanah untuk rumah tinggal akhirnya sawah sawah di timbun untuk dijadikan rumah/perumahan. Jika terusseperti ini maka ekologi Bali benar benar hancur. Masyarakat hanya kebagian polusi dan juga permasalahan yang di tinggal oleh para konglomerat.. saya hanya bisa bergumam dalam hati “ semoga Karma ada untuk manusia serakah seperti mereka”. Memang menjual tanah itu hak mereka, dan mungkin mereka mengalami masalah masalah yang pemecahannya hanya menjual barang yang ada namun jika tidak ada orang serakah yang terus mencari dan menawarkan kemewahan mungkin hal ini bisa sedikit ditanggulangi..
 “semoga Bali tetap manjadi tempat yang indah ”

Cerita dibalik Pintu Baja



23-07-2014 03.26

Wanita paruh baya itu terduduk di depan sebuah pintu baja yang memisahkan antara dunia luar dan kumpulan sel pengap tempat para pelaku kejahatan dan korban ketidak adilan menerima hukuman yang dianggap setimpal, air matanya terus mengalir jatuh ke tanah, wajah pucat terus menghiasi wajah tuanya yang sudah lama tidak tersenyum. Sudah sejak pagi ia menunggu di depan pintu baja itu, berharap penjaga penjaga berwajah bengis itu memiliki sedikit belas kasihan untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan suaminya untuk terakhir kalinya, hari itu suaminya akan di eksekusi, dan tiang gantungan akan mengakhiri perjuangan seseorang yang sudah lebih dari 30 tahun ia damping berjuang, atas sebuah idealisme yang sangat ia percayai.
Dibalik pintu baja itu, terdapat sebuah sel kecil dan didalamnya terdapat seseorang paruh baya berumur sekitar 50an  dengan wajah dengan jagut dan kumis yang lebat. Wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan luka, tatapan matanya kosong, seolah keputus asaan sudah datang kepadanya. Tak terlihat semangat seperti ketika ia berorasi dan membakar semangat para pengikutnya yang melawan para penguasa yang selalu mengatasnamakan rakyat. Beberapa jam lagi,ia akan menghadapi kematian, kamatian yang sudah datang kepada para sahabatnya terlebih dahulu. Ia berjuang melawan para penguasa yang mendapatkan kekuasaan dengan segala cara. Dan hari ini ia merasa kalah. Bukan kematian yang membuatnya risau tapi akhir perjuangannya yang membuatnya merasa sedih. Terlalu banyak hal yang telah ia korbankan untuk sebuah gelar yang kini telah ia dapat, yaitu penghianat.
Ketika pahlawan sebenarnya dianggap sebagai seorang penghianat, itulah mereka. Perjuangan mereka untuk merubah nasib manusia-manusia yang hidupnya tanpa arti di atur oleh sekelompok politisi yang hanya peduli akan kelangsungan hidupnya. Ia ingat beberapa hari lalu ketika sahabat- sahabatnya yang ia ajak berjuang bertahun tahun untuk merebut kekuasaan telah diseret dengan kepala tertutup kain hitam dan akhirnya keluar dari pintu baja itu sebagai sebuah mayat dengan wajah tanpa expresi. Dan saat saat itu akan tiba. Ia ingat pesan terakhir para sahabatnya, dan mereka ingin agar ia tidak pernah menyerah. 
Terlalu banyak siksaan yang ia alami sehingga ia tidak lagi merasa sakit, dan ketakutan akan kematian sudah pergi bersama dengan kumpulan debu yang melewati jendela penjara itu.
Diluar pintu baja itu,istrinya dengan setia menunggu sejak matahari beranjak terbit hingga senja. setiap senja,ia akan pulang kerumah dan bercerita kepada anak anaknya bahwa ayahnya tinggal bersama dengan para pejabat Negara dan sangat sibuk sehingga tidak sempat menjenguk mereka. Ketika pagi,ayam berkokok, ia akan kembali ke pintu baja itu. Dan hari ini mungkin hari terakhir ia duduk di dekat pintu itu dan berpindah duduk ke kumpulan batu nisan yang tertulis nama suaminya. ia melarang anak anaknya keluar rumah agar nasib mereka tidak seperti kakak tertuanya yang berbadan tegap dan akhirnya tertembak di pusat kota dan tergeletak dijalanan hingga teman temannya mengubur dan berjanji meneruska perjuangan untuk sebuah revolusi.
Detik demi detik berlalu, lonceng berdentang sebelas kali yang artinya tinggal satu jam lagi ia akan menghadapi kematiannya. Ketika beberapa laki laki kekar mendatanginya, ia meminta sebuah permintaan terakhir agar ia bisa berdiri di dekat pintu baja itu, dan pria kekar itu mengabulkan permintaan sederhana itu.  dengan langkah yang terseret ia berjalan ke pintu itu, mmerasa ada langkah yang mendekat, wanita tua ini memandang ke jendela baja yang berisi jeruji besi itu dan akhirnya setelah beberapa bulan, akhirnya mereka bertemu walau hanya beberapa meter. Ia memandang keluar dan melihat dari kejauhan seorang wanita duduk tanpa harapan. Setelah beberapa detik mereka saling pandang dan terlihat senyum bahagia di kedua wajah itu.  diantara mereka tidak ada yang sanggup mengeluarkan sepatah kata, hanya air mata yang mengalir dari mata tua wanita itu, entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan. Dan akhirnya beberapa pria kekar itu menarik laki laki tua ini menuju tiang gantungan.
Lonceng berdentang dua belas kali dan seorang algojo menarik sebuah tuas besi yang sudah berkarat. Terdengar suara kayu dan tali bergesek.
  “Selamat tinggal pak tua”, kata wanita paruh baya itu pelan.